Senin, 29 Oktober 2012

Tri Vs Maria

-->
Ku pandangi lekat-lekat wanita muda seumuranku yang ada disampingku duduk dalam bus, ia lebih hitam dariku, kurus sekali, terlihat agak lusuh. Ia membawa seorang anak kecil sekitar satu tahun usianya, dan tas agak besar, di tangannya terdapat beberapa minyak wangi. Ya, ia penjual minyak wangi. Kadang aku jadi salah tingkah karena ketahuan memperhatikannya. Dengan keras ku coba mengingat-ingat. Sepertinya aku kenal, tapi siapa dia ya? Ah, aku ternyata tak berhasil mengingatnya.

Ia terus menunduk. Sementara aku mencoba membolak-balik ingatanku. Masih sama, aku tak kunjung mengingatnya. Ah mungkin hanya perasaanku saja. Kami tidak saling kenal. Bus terus melaju dengan cepat.

"Gita?", tiba-tiba gadis itu buka suara.

Dia memanggilku? Berarti aku dan dia memang saling kenal. Lagi-lagi, siapa dia ya? Ah! Aku tetap tidak mengingatnya.

"Tri", terangnya.
Aku melongo dan mengeryitkan dahiku, terus mencoba mengingatnya. Dasar pelupa. Nama Tri terlalu banyak. Ah! teganya aku ini.

"si cengeng, kau tak ingat padaku?", katanya. Kali ini aku langsung ingat. Cuma dia satu-satunya orang yang memanggilku cengeng. Ya, ia Tri, teman dekatku saat SD. Bahkan teman satu bangku denganku dulu.

Ku pegang wajahnya dengan kedua telapak tanganku,
"Tri??? Subhanallah, ini seperti mimpi", kali ini aku benar-benar heboh hingga hampir seluruh penumpang bus mendaratkan pandangannya ke kursiku. Tak peduli.

"Iya.. Bagaimana kabarmu? Si mak mu bagaimana? Aku rindu..ceritakan bagaimana kehidupanmu sekarang." pintanya.

"alhamdulillah sekarang aku kuliah, ibuku baik, beliau sehat. Adikku jadi empat, kau harus melihatnya. Rumah kami jadi seperti taman kanak-kanak, ribut sana-sini oleh anak-anak, tapi tetap menyenangkan, hehe". ceritaku sekenanya.

Aku juga penasaran, bagaimana ceritanya teman SDku yang cantik dan baik hati itu menjadi seperti ini.

Tanpa ku minta, ia mulai bercerita. "waktu aku pindah dulu semasa kita masih kelas tiga SD, kau tahu? Ayahku menikahi seorang wanita katholik, dan menyatakan keluar dari Islam. Aku tidak tahu bagaimana jalan fikirannya. Pada saat itu ya, aku hanya ikut-ikut, aku tak tahu menahu tentang hal seperti itu. Sampai namaku berganti Maria." Ia berhenti bercerita, airmatanya jatuh. Aku merangkul pundaknya.

"...Hingga akhirnya aku menikah, dengan lelaki katholik juga. Aku diboyong ke Medan. Ya, suamiku orang sana. Awalnya kehidupan kami bahagia. Semakin lama aku merasa kehidupanku hambar. Sepertinya ada yang salah dengan agamaku. Didekat rumah kami, ada masjid besar. Tanpa sepengetahuan suamiku, aku sering duduk didepan masjid itu. Aku sering mendengarkan ceramah dengan cara menguping, aku takut jika datang secara terang-terangan. Lambat laun aku terenyuh Git, apalagi jika suara adzan berkumandang. Hatiku semakin bergetar, sepertinya inilah jalan yang harus aku ambil. Hidayah datang dengan cara yang indah. Ya, aku masuk Islam lagi.." airmatanya semakin deras.

...suamiku tahu, ia membakar mukenah serta jilbab-jilbabku, dan segera mengusirku tanpa memberikan kesempatanku untuk mengemasi pakaianku atau mengambil celengan ayamku. Aku jadi seperti gembel. Hanya selendang yang aku jadikan sebagai penutup kepalaku dan daster kumal.
Di perjalanan aku bertemu seorang lelaki tua, aku diajak tinggal dengannya. Aku bingung, tak tahu kemana harus pergi. Aku tak paham daerah ini, akhirnya aku mau diajak. Singkat cerita, aku dinikahkan dengan putranya. Ia shaleh. Keluarga ini sangat sederhana Git, suamiku ingin kami mengontrak saja. Setelah bapak dan ibu mertuaku meninggal, rumahnya diberikan pada putri bungsunya. Ternyata suamiku juga ikut meninggal, ia tertabrak bus saat mengendarai sepeda. Saat itu aku hamil tua... Lantas dengan peninggalan yang tak banyak dari suamiku, aku pulang ke Jawa. Kau tahu kan aku tak punya siapa-siapa. Ibuku meninggal. Sementara ayahku murtad! Ya, inilah kehidupanku sekarang, berjualan minyak wangi di bus. Tadinya dari awal aku memang sudah mengenalimu, karena kita sempat berkirim foto lewat e-mail dulu. Itu saat SMA. Tapi aku takut kau tidak mengenaliku.."

Ku cubit pipinya.
"ikutlah kerumahku, tinggallah bersamaku. Ibu pasti senang".

Wajahnya sedikit tersinggung, "apa-apaan kau ini, janganlah kau kasihani aku sobat.."
Ia masih sama seperti dulu.
“Hidup tidak selalu sejalan dengan keinginan kita Git, hidup mengajarkan aku sesuatu yang tinggi harganya, yaitu kesabaran. Selagi aku masih mampu, selagi aku bisa menghidupi diriku juga si kecil ini, aku tidak akan meminta Git..”

"aku harus turun...!" ujarnya setelah tiba di terminal.

Ku keluarkan uang seratus ribu, hanya itu yang aku punya.
"ini.." ku selipkan ditangan anak gadisnya.

"aku tidak mau, kau ini!!", ia menolak.

"ini untuk anakmu, bukan untukmu tau!".
Ia tersenyum. Wajahnya tegar sekali.

Kemudian ia turun. Aku masih rindu..
Tri, sahabatku.. Kau buat aku menangis lagi, aku memang cengeng. Kali ini kau buatku menangis karena ketabahanmu sobat.. Allah akan senantiasa melindungimu, aku yakin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar