Senin, 08 Agustus 2011

Where are you an agent of change?


Where are you an agent of change?

“ENGKAU MENOLONG (AGAMA) ALLAH, DIA AKAN MENOLONGMU”. Sebuah bagian awal prolog di salah satu buku Dr. A’idh Al-Qarni, M.A “Menuju Puncak”. Subhanallah, mengguncang hati.

“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (Yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad dijalan Allah dengan harta dan jiwamu, itulah yang lebih baik bagimu jika kamu mengetahuinya. Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di surga ‘Adn. Itulah keberuntungan yang besar. Ketika Allah mencintai hamba-Nya dan hamba-Nya mencintai Allah, maka Allah berfirman, “Dan (ada lagi) karunia lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman.” (Ash-Shaff : 10-13).
Mereka (orang-orang terdahulu) menyerahkan jiwa raganya kepada Allah dan mengatakan, “ Kami menjual jiwa raga kami kepada Allah..”

Mungkin kita perlu mereview kebelakang, tentang bagaimana semangat juang para sahabat. Salah satu contohnya, Ali bin Abi Thalib r.a, sahabat paling pemberani, hasil didikan warisan sang manusia mulia Rasulullah SAW. Ia menceritakan, “Ketika kami dilanda bahaya dalam kecamuk peperangan, kami berlindung kepada Rasulullah SAW, dan beliau adalah orang yang paling semangat dalam menghadapi pertempuran.” Atau, tatkala umat Islam mulai takut mati, di ruang-ruang sempit mereka berharap untuk hidup, atau mencari tempat sebagai pelarian, bahkan rela bergabung dengan barisan musuh bersama para Zionis. Maka, dipastikan saat itu semangat berjihad untuk mendapatkan syahid telah pupus. Sungguh berbeda dengan Abdullah bin Rawahah r.a, yang pada suatu ketika keluar dari masjid Rasulullah SAW untuk ikut serta dalam perang Mu’tah. Para sahabat mendoakan baginya, “Insya Allah kamu akan pulang dengan selamat.” Namun Ibnu Rawahah r.a menjawab, “Tidak, saya tidak menginginkan selamat.” Rupanya Ibnu Rawahah lebih mengharapkan supaya ia terbunuh dan mendapat predikat syahid di jalan Allah Azza Wa Jalla. Subhanallah.

Para sahabat adalah generasi yang terdidik keberanian. Mereka tak segan menyeberangi sungai Tigris, Eufrat, dan Nil untuk menegakkan kalimat Allah. Mereka menaklukkan dunia dengan kalimat Lâ Ilâha illallâh. Tak ketinggalan pula mereka, yang masih muda belia, hingga tatkala beranjak dewasa mereka menjadi pahlawan besar yang menghancurkan istana, menerobos istana dan menerobos benteng pertahanan musuh. Satu lagi. Inilah Mu’adz bin Afra’, yang pada usia 15 tahun dalam suatu pertempuran bertanya, “Di manakah Abu Jahal?” mereka menjawab “Itu dia!”. Ketika genderang pertempuran mulai berkecamuk dan situasi darurat diumumkan, pedang mulai meneteskan darah, maka Mu’adz dan sepupunya berlomba-lomba mencari Abu Jahal. Mereka mengepung dan membuat dedengkot kafir Quraisy kalang kabut. Usai pertempuran, Mu’adz mendatangi Rasulullah SAW. Dengan pedang ditangannya, dengan bangga ia mengatakan, “Wahai Rasulullah, saya telah membunuh Abu Jahal.” Sepupunya juga datang kepada Rasulullah SAW dan mengaku bahwa dia yang membunuh Abu Jahal. Mendengar hal itu, Rasulullah SAW tersenyum dan memberikan ekspresi bahagia kepada mereka serta mengatakan, “Kalian berdua sama-sama telah membunuhnya.” (HR Al-Bukhari dan Muslim). Kita tidak perlu bersiap pedang atau anak panah untuk berperang seperti sahabat terdahulu. Tapi satu hal yang perlu diperangi kini, yaitu krisis moral yang tengah marak. Keberanian yang mengkerut. Atau acuh tak peduli terhadap masa depan peradaban. Ya, saya kira itu gambaran yang kini saya lihat. Hanya Allah yang tahu.

Wahai agen perubahan kemanakah engkau? di bagian bumi yang manakah engkau berada? Kami mencarimu, dan selalu mengharapmu ada untuk melakukan sebuah perubahan dibumi ini, bumi titipan-Nya. Tidak inginkah engkau sesemangat pemuda terdahulu?. Ketika banyak orang yang mengaku cinta kepada Allah, maka mereka diminta menunjukkan bukti atas keseriusan cintanya. Apa yang akan kita buktikan? Tidak perlu menjawab terlalu keras, cukup kita dan Allah saja yang tahu. “…Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di surga ‘Adn. Itulah keberuntungan yang besar.” Subhanallah, bisakah anda membayangkan bagaimana bisa kita berdiri disuatu tempat yang dibawahnya mengalir sungai-sungai, logika kita takkan sampai bukan? Itulah Dia yang mencipta, tak dapat ditebak, dan tak dapat pula dijangkau imajinasi-Nya. Bukankah Allah menjanjikan “surga yg mengalir dibawahnya sungi-sungai dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di surga ‘Adn. Itulah keberuntungan yang besar.”. Ini janji Allah dalam kitab suci. Tidak perlu difikir lagi.
Ditengah krisis besar yang melanda salah satu, bahkan satu-satunya planet yang dihuni oleh makhluk yang salah satu diantaranya bernama ‘manusia’. Ya. Bumi. Ada satu krisis yang sepertinya sampai saat ini belum juga terselesaikan, bahkan makin merajalela. Saat inilah saat yang paling tepat untukmu hadir ditengah-tengah kami wahai Agent Of Change ! Hai teman, kenapa kau masih mengantuk, apakah engkau masih tidur pulas bermimpi? Sementara fajar nun indah telah datang menghampirimu, merangkulmu untuk memulai kehidupan, dan malam telah berlalu bersama setan-setan yang ketakutan. Lakukanlah! Barang sedikit. Saya teringat pesan seorang ukhty disebuah majlis perkumpulan mahasiswi; “Kita ibarat bahan baku batu bata, yang kemudian diproses sedemikian rupa, dimulai dengan pencetakan, pembakaran yang berulang-ulang hingga akhirnya jadilah sebuah batu bata yang siap menjadi pengokoh bangunan. Yang kemudian dalam proses pembangunan, dimana kita akan ditempatkan oleh sang kuli? Mungkin kita akan ditempatkan di bagian atas, tengah, bawah, atau bahkan menjadi batu bata yang dibelah jadi dua untuk diselipkan. Bukan masalah dimana kita ditempatkan, yang diatas tak perlu berbangga hati, begitu pula yang menjadi selipan tak perlu berkecil hati, tapi bagimana peran kita menjadi pengokoh sebuah bangunan, lakukanlah!”. Ya. Kita adalah batu bata yang akan berperan dalam kokohnya bangunan peradaban.
Tidak mudah memang menjadi agent perubahan, suatu kelompok atau individu yang siap melakukan perubahan demi kokohnya bangunan peradaban. Tapi perlu diketahui bahwa estafet perjuangan harus tetap diteruskan agar tidak terhenti hingga pada batas masanya kelak, sekali lagi; agar tidak terhenti! tentu atas kehendak-Nya. Ibarat sebuah pohon ada saja dedaunan yang berguguran. Namun pohon tak pernah jera menumbuhkan lagi daun-daunnya. Sementara dedaunan yang gugur tak lebih hanyalah sampah sejarah. Jika kita berani melangkah ke sebuah perubahan berarti rela dalam kepahitan dan kepedihan. Biarlah diri ini menangis, menjerit karena luka, merintih, kecewa asal kita tetap berada di jalan Allah, daripada mati tanpa mujahadah, tanpa sumbangsih apapun. Saya tahu kita memang tak sanggup selamanya terluka, tak sanggup selamanya menahan perihnya mata ini karena terlalu banyak mengeluarkan airmata dalam sebuah perjuangan dan pengorbanan, hingga hampir batas kering, tapi ingatlah setiap tetesan darah dari luka dan air mata yang kita korbankan, itulah mahar kita menuju surga, dan ingatlah tidak ada istilah batasan dalam kesabaran! Jika ditanya kenapa perjuangan itu PAHIT?, jawabannya; “karena jannah itu MANIS”. Ya. Bukankah Allah menyukai orang-orang yang berkorban, harta dan jiwanya?. Jadilah mutiara-mutiara peradaban yang tak pernah hanyut tersapu deras getirnya zaman. Namun indahnya takkan pernah mampu pudar hingga kapanpun, dan Allah membangga-banggakan orang-orang beriman dihadapan malaikat-malaikat.
Kesinilah, wahai orang-orang yang lemah
dan jiwanya tertahan dalam penjara
Wahai orang yang sedang terlelap dan tidak sadar
ketika Bilal sedang adzan di waktu Subuh
Taman Rasulullah nan rindang
dan kalian semua adalah sahabat beliau, wahai pemuda (Dr. A’idh Al-Qarni, M.A dalam Menuju Puncak)
Ulangilah kalimat terakhir menunjuk pada kita, “wahai pemuda”. Ya. Kitalah harapan untuk melanjutkan estafet. Estafet perjuangan yang tak boleh berhenti begitu saja tanpa menyisakan secuil kenangan manis pada generasi selanjutnya.
Sekarang, saatnya kita bertanya kepada diri kita, akankah kita berhenti sampai disini, tidak melakukan apa-apa? Dan estafet perjuangan berhenti di titik ini? Apakah janji Allah dalam Q.S Ash-Shaff : 10-13 kurang begitu menggiurkan?. Katakan “TIDAK !”, dan harapan itu masih ada. Mari berjuang, karena semua!.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar