Ketika ufuk timur setengah memancarkan cahaya terangnya, riuh ayam jantan menyadarkan aku dari selimut mimpi yang hitam dan kelam. Aku bangun dan duduk sejenak. Tak lama selang waktu, suara klakson terdengar berkali-kali, tiba-tiba bel rumah pun ikut berdentang. Dalam benak bertanya; “siapa ya pagi buta bertamu?.” Aku bangunkan ummi yang tidur lelap disampingku, kemudian ummi beranjak membuka pintu, aku intip dari dalam, perlahan ummi amat-amati dua pria yang berdiri tepat didepan pintu karena hari masih cukup gelap. Nampaknya dua pria itu polisi, entah apa yang mereka katakan pada ummi. Kemudian ummi menyuruhku membangunkan nenek dan kakek lalu segera bergegas. Lima belas menit selesai bergegas, kemudian aku, ummi, nenek, kakek, dan Airin adikku yang berumur empat tahun pergi meninggalkan rumah dengan mobil.
Pukul 07.00 WIB gemuruh kota kami injak, rem mobil menghentikan lajunya di tempat parkir Unit Gawat Darurat.
“kenapa kesini?.” Tanyaku dalam benak.
Ketukan sepatu berlomba kecepatan, kakek, nenek, dan ummi berjalan seperti pesawat jet, raut wajahnya bagai langit tertutup awan mendung. Aku yang tak tahu-menahupun mengikuti langkah mereka.
Kami memasuki kamar pasien berpapan anggrek, terlihat seorang pria paruhbaya terbaring diatas ranjang terlihat parah, keningnya dibalut kain putih, ia rekan abi yang semalam mengajak abi pergi, tapi kenapa disini tidak ada abi, “kemana abi?.” Pria itu bilang abi baik-baik saja, abi sedang ngopi diluar, kami merasa lega sekali. Sekarang tanya yang menyelimuti hati terjawab sudah, ternyata semalam abi dan rekannya mengalami kecelakaan hebat. Setelah lama kami menunggu, abi tak kunjung datang, akhirnya kakek segera menyusul abi keluar. Tiga puluh menit berlalu, kakek datang, kemudian beliau mendekat lalu berbisik pada nenek dan ummi. Spontan nenek dan ummi menangis histeris, hingga ummi jatuh tak sadarkan diri. “sebenarnya ada apa?.” Tanya itu berkeliaran dalam hati namun lidah tetap beku.
Aku ditemani nenek dan seorang perawat menemani ummi, alhamdulillah ummi sudah siuman, namun beliau terus meneteskan airmatanya. Kemudian, perawat itu bertanya padaku; “de, yang meninggal itu kakaknya ade ya?.”
Jarum jam berdetak pasti menunjukkan pukul 08.00 WIB, kami menunggu jenazah abi diluar Rumah Sakit. Tiba-tiba sesosok tubuh melintas dihadapan kami dengan ranjang besi dan selimut hijau becorak bunga-bunga, “itu abi, abi yang kemarin sore masih erat memelukku, apakah ia mendengar tangis hatiku?.” Batinku.
“abi mana ummi?.” Tanya Airin dengan wajah lugunya. Ummi menahan derai airmatanya; “abi sudah tenang, abi lagi istirahat sayang”.
Setelah jenazah masuk dalam ambulance kami pulang, gemuruh kota kami tinggalkan dengan membawa duka.
Terlihat para Adam dan Hawa berbondong-bondong untuk datang melayat. Pukul 11.00 WIB kami tiba dirumah setelah ambulance tiba lebih dulu. Kami masuk, sesosok tubuh berbalutkan kain putih terbujur tak bernyawa dengan naungan ayat-ayat suci Al-Qur’an menemaninya di ruang tengah, akupun kembali menangis, ummi jatuh pingsan, Airin yang tak tahu menahupun ikut menangis histeris. Tiba-tiba seseorang mendekapku dari belakang, setelah kulihat, ternyata ia pria yang begitu tega mengantar abi pada maut, dan pria yang menutupi kematian abi. Aku segera terlepas, tak sudi aku bersentuhan dengannya, “pembohong, pembunuh!!!.” Teriakku.
Inikah jawaban dari mimpi semalam? Aku, ummi, dan Airin menebar sekeranjang bunga disuatu tempat kemudian bunga itu terbang dan lenyap, lalu abi berkata; “abi senang, kalian jangan ikut abi ya. Abi sayang kalian.”
Semua amat kehilangan. Alloh hanya memberi tiga puluh tiga tahun untuk abi mengabdi pada-Nya. Kini sosok Imam dan abi yang bijaksana t’lah kembali ke Rahmatullah.
Abi, Zahra akan mulai belajar menerima kenyataan, entah seperti empedu ataupun madu, karena abi selalu mengajarkan Zahra tentang pahit manisnya kehidupan. Zahra juga akan menjaga ummi dan Airin.
Rasanya saat kau ucapkan kata itu dalam mimpiku, ingin kuraih tanganmu, namun aku tak mampu, kini kau ada di suatu tempat yang tak mampu ku jangkau. Kadang aku sedih, aku ingin teriak, jika tidak ada iman di dada mungkin aku sudah memilih lenyap ditelan bumi karena aku tak tahan melihat ummi terus menangis kala malam sunyi, selain Alloh tiada lagi tempatnya bersandar, ia menutupi kesedihannya dengan senyumnya. Apalagi saat Airin menanyakanmu abi, ummi hanya dapat menjawab; “sabar sayang, abi sedang istirahat.”, setelah itu ummi pergi kekamar mandi lalu menangis. Ummi juga harus menjadi ummi sekaligus abi untuk banting tulang menafkahi kami, ummi rindu kata-kata nyaring setiap ba’da maghrib: “bikinkan teh pahit untuk abi, ummi.”
Zahra ingin abi tau, kami semua akan selalu merindukanmu, merindukan sholat berjamaah denganmu, belaianmu, impianmu terhadap anak-anakmu, candamu, senyummu, aroma wangi tubuhmu, apalagi setiap pagi saat Zahra beranjak ke sekolah jika ummi tidak sempat abi selalu menyiapkan nasi goreng special buatan abi untuk bekal sekolah, meskipun selalu kepedasan atau keasinan tapi Zahra senang, dan itu semua yang akan kami rindukan darimu abi…… Alloh, tempatkan abi ditempat yang paling indah, ampuni dosanya, kumohon jangan siksa dia. Kabulkan doa kami yang akan selalu merindu abinya. I Love You abi

Tidak ada komentar:
Posting Komentar