Kamis, 10 November 2011
Legitnya Hidayah
Legitnya Hidayah
Dengerin curhat barengnya ukhti di bawah ini yok, yang udah saya salin dan bumbui dikiit... dikit doang koq :)
Ekhm..ekhm..
Fatikha (nama samaran), sabtu sore itu duduk bergerombol di taman kota.
Suasana sore itu agak mendung, semendung hatiku (egkgk).
"pengalaman ikut halaqah sebelumnya gimana ukh?
"saya ikut sejak tahun 2009" jawab Fatikha.
"adakah yang bisa dibagi bersama kami?:)"
Fatikha diam sejenak, melempar senyum kearah teman-teman halaqah barunya. Sistemnya memang begini, setelah di halaqah pertama di pererat tali ukhuwahnya, lalu kemudian di pisahkan, istilahnya di sebar ke seluruh bagian halaqah di penjuru bumi Islam.
Lho kenapa?
Simple sih sebenarnya kalau kata saya, melebarkan sayap ukhuwah. Silahkan anda berpendapat. Ök?
Tak lama kemudian,
"dalam keadaan masih sebagai pacar orang, saya ikut halaqah" Ujar Fatikha.
Semua mata tertuju padanya, tapi ekspresinya tetap tidak menampakkan rasa kaget. Padahal, barangkali kagetnya luar biasa, lebih tepatnya penasaran "koq bisa?", atau "gimana critanya yha?", atau mungkin "diem dulu ah, mau nyimak. penasaran sih".. Egkgk
"Ya, ukhti. Dalam status sebagai pacar orang." Ujar Fatikha sembari melempar pandangan ke teman-teman barunya, lalu pandangannya mendarat pada murabbiah, beliau tersenyum dan mengangguk.
"Saya pacaran sejak semester akhir di kelas X (sepuluh / 1 SMA)..
Tidak jauh, dia kakak kelas saya.
Di pertengahan kelas XI, kalau dilihat dari kacamata awam, hubungan kami agak kacau. Tapi sebenarnya kalau kita tinjau, ini tidak lepas dari keikutsertaan saya di halaqah.
Kami sering berdebat, terutama ketika si dia melarang saya ikut halaqah. Tapi kemudian hubungan itu tetap berlanjut, nyesel banget kalau ingat itu. Abis pada saat itu susah banget melepasnya. Dasar alasan orang yang tidak mau menerima kebenaran. Saya." Lanjut Fatikha. Sebagian teman-temannya mengeryitkan dahinya.
"Perjuangan yang amat besar bagi saya disini ukhti. Banyak dari teman-teman saya di luar sana yang (maaf) masih punya pacar dan mengeluhkan keadaannya, antara putus atau lanjutkan.
Saya menjawab sama pada mereka yang menyampaikan keluhannya itu...
...."Bukan cuma kamu. Aku juga dulu begitu. Pengorbanannya luar biasa. Sampe putus nyambung gak jelas. Aku juga cinta sama si doi koq, dikiranya gak tangisan ndina wengi pas putus????"
"ukhti jawab begitu?"
"Iya..
Tapi kemudian inilah pengorbanan. Bukankah Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik..?
Hingga di akhir tahun di kelas XI kami putus secara resmi,hehe..
Saya tidak peduli dia mau ujian atau tidak. Mau lulus atau tidak. Mau konsen atau tidak.
Egois?? Biarin.
Saya tidak lagi mau menggunakan alasan-alasan yang kesannya mentolelir kesalahan saya. Tidak ada toleransi dalam hal ini -DOSA-. Saya sudah risau 1 tahun terakhir ini...
...Ketika duduk bersama teman-teman di halaqah, saya merasakan beban psikologi yang berat. Bahkan sangat berat. >>Saya punya pacar. Huh!!!
dan itu tidak di ketahui oleh semuanya, bangkai yang tertutup rapat.
Malu ukh... Di kejar-kejar dosa. Sudah tau itu dosa, tapi tetap dilanjut. Saya sudah lama duduk dikubangan pintu zina.
...Bahkan yang lebih parahnya lagi. Saya tidak menamai hubungan ini sebagai pacaran, tapi saling menjaga hati sampai Allah mempertemukan dalam ikatan pernikahan. Masya Allah! Tapi aktifitasnya gak jauh beda sama orang pacaran, smsan tiap detik (hyperbola), telfon-telfonan sampe kuping jadi panas mau meledak.
Pacaran islami??
Astaghfirullah..
Astaghfirullah..
Astaghfirullah..
Sudah amat gila, terpedaya yang berkelanjutan. Sudah tau dosa tapi tetap saja asyik. Terjebak dalam kesenangan nafsu tapi ngaku sudah menjinakan nafsu. Pengakuan yg hambar dan tak berasa sedikitpun. Tidak bertaqwa malah menikmati dalam ketidaksadaran. Huh!!!
...Ketika sudah putus pun perjuangan tetap ada. Perjuangan menghadapi suara dari semua orang yang menganggap keputusan saya egois. Dan itu membuat saya berfikir ulang, mempertimbangkan.
Alhamdulillah tidak sampai terjadi lagi putus-nyambung.
Hati jadi lega... Tidak ada tekanan psikis yang luar biasa ketika berkumpul dengan mereka, teman-teman halaqah...
Makanya saya tidak mau generasi setelah saya mengalami kesalahan yang sama seperti saya. Ada penyesalan yang luar biasa setelahnya. SUNGGUH!!
Hidayah sudah datang. Dan itu begitu teramat manis.. Legit.. Lebih manis dari lapis legit,hehe...
Saya malu sih sebenarnya crita begini, tapi saya rasa mudah-mudahan bisa di ambil hikmah.. Aamiin.." Ujar Fatikha panjang x lebar.
Semua mata berkaca-kaca, sampai murabbiah meneteskan airmatanya. Kemudian memeluk Fatikha penuh cinta.
"inilah halaqah, ini salah satu manfaat dari halaqah dari sekian banyaaaaak manfaat lain.. tetap istiqomah yah sayang?" Tutur murabbiah, masih dalam pelukan hangatnya
...................
...................
...................
Mengharu biru..
Lalu,
Hikmah apa yang bisa kita petik??
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar