“....hak
asasi wanita direnggut dengan paksa. Inilah tindakan brutal di abad 21.
Bagaimana mungkin...!”
“Seperti
wanita malang ini,” telunjuk sang orator mengarah tepat jke hidung gadis cantik
berjilbab.
“Kawan,
jangan takut kepada budaya dan pria. Raih kebebasanmu!”
“Buka
penjara ini!” sang orator memegang kerudung gadis tadi.
“Apa
maksudmu?” gadis itu bicara.
“Lihatlah!
Gadis cantik ini patut dikasihani. Dia bahkan tidak menyadari betapa para
lelaki ini (menunjuk ke pria berjenggot yang sedari tadi kalem) Telah mengatur
hidupnya, mendominasi kinginannya!” Orator itu hampir berteriak. Nada bicaranya
penuh kepedihan.
“Sampai
kapan pembodohan ini dibiarkan terus?” Pekik orator penuh amarah.
“Islam
tidak seperti itu! Itu bohong besar!” seru gadis itu (Pingkan namanya)
emosional. Napasnya memburu.
Penonton
bisikbisik.
“Well”
Orator menatap Ping dengan pandang tak percaya, seakanakan Ping merupakan
keajaiban dunia kedelapan yang tak mungkin ada. “Bukankah kamu, wanita Islam,
hanya mendapat warisan separoh dari jumlah bagian pria?”
Sesaat
Ping diam. Mikir. “Iya. Benar. Lalu?” tantangnya.
“Nah!”
Orator merasa tenang. “Itu sewenangwenang!”
“Nggak
bisa!” tangkis Ping ngotot.
Pingkan
maju lebih ke depan, mendekati penonton, mahasiswa-mahasiswi yang sedari tadi
mengerumuni stan organisasi feminis ini. “Itu tidak sewenangwenang karena
setengah bagian itu menjadi hak mutlak wanita. Lelaki, ayah, suami, atau
siapapun, tidak berhak menggunakan uang itu tanpa izin dia. Kalian tahu?” Ping
menatap penontonnya dengan semangat.
“Dalam
pernikahan Islam, penghasilan dan harta wanita milik pribadinya. Pembiayaan
rumah tangga merupakan kewajiban penuh suami. Wanita boleh saja menyumbang dana
untuk pembiayaan rumah tanggat, tapi tak ada keharusan! Bukankah itu hak
istimewa sekali? Hak kepemilikan harta yang langka?” Pingkan mendekati seorang
penonton wanita, si jaket merah. “Bagi saya bukan sewenang-wenang. Menurut Anda
bagaimana?”
Wanita
itu menggeleng, sepakat dengan Ping.
Sang
orator terpaku.
“Tadi
dia mengatakan kalian harus patuh dengan aturan tertentu dalam berpakaian,”
seorang siswi lain angkat suara. “Apakah benar kalian dilarang mengikuti fashion?” Wajahnya menunjukkan rasa
ingin tahu yang besar.
Oh,
jilbab dan kebebasan.
“Jilbab
menunjukkan arogansi pria terhadap wanita. Bahkan pria mencoba mengatur cara
mereka berpakaian dengan tak memikirkan nilai seni. Mereka, para pria, menjajah
rasa seni wanita ini!” Orator memperjelas pemikirannya.
Pingkan
menarik napas jengkel. Semua orang sekarang menatapnya.
“Apakah
kalian benarbenar ingin tahu perasaan saya, kami?” Ping menunjuk rombongan
gadis berjilbab lainnya.
“ya,
bicaralah, kali ingin dengar dari kamu,” seorang siswa mendorong Ping.
“Bicaralah!”
kata siswi yang tadi bertanya.
“Oke,”
Ping menenangkan perasaannya, “Pakaian ini,” dia menyapu penonton dengan
pandangan mantap. “Lambang kebebasan kami!”
Terdengar
suara gaduh, penonton saling berkomentar. Sang orator ternganga. Betapa tidak,
pendapat Ping sangat bertolak belakang dengan keyakinannya. Betapa bodoh gadis
ini!
“How?”
“Ini
menarik,” komentar siswa tadi.
“Pakaian
ini membuat orang menilai kami dengan siapa kami, bukan bagaimana fisik kami.
orang menilai kami berdasarkan kecerdasan kami, kebaikan sifat kami, bukan
berdasarkan seksi atau tidaknya tubuh kami,” Pingkan tersenyum... untuk pertama
kalinya.
“Itulah
pembebasan yang saya maksud. Pembebasan dari cara pandang yang mengukur kami
dari kurus gemuknya badan kami, besar atau kecilnya betis kami, tinggi
pendeknya tubuh kami.” Pingan berjalan menuju bagian penonton yang banyak wanitanya.
“Bahwa
kami, kita, wanita,” tekannya, “lebih dari sekedar onggokan daging. Pakaian ini
akan membebaskanmu dari diet yang menyiksa,” kata Ping lembut. Dia tahu,
sebagian wanita didepannya melakukan diet ketat. “Pakaian ini bukti bahwa kita
bebas mengontrol siapa saja yang bisa melihat kita, siapa yang bukan. Kita
dengan sendirinya terbebas dari santapan mata-mata pria nakal.”
Seorang
siswi tahun pertama menatap Ping tak berkedip. Hatinya tersentuh dengan konsep
kebebasan Ping.
“Fashion?” Ping mantap berkeliling,
setengah bertanya. Suasana senyap. “Pakaian seperti ini adalah salah satu fashion!”
Beberapa
orang bertepuk keras, diikuti yang lain. Muka Ping panas. Hawa dingin yang tadi
dirasakannya lenyap. Kehangatan menjalar ke seluruh tubuh Ping.
“Tapi,”
orator maju mendekati Ping. “Kalian tidak boleh menuntut ilmu, keluar rumah...”
“Sebentar!”
Ping mengangkat tangannya.
Ada
sesuatu dalam nada bicara Ping yang membuat orator terdiam.
“Menurutmu,”
Ping menatap orator itu lembut. “Apa yang baru saya lakukan bersama Dr. Muller
di Lab Fisika Lanjutan? Dan tolong beritahu saya, ada di mana saya sekarang?”
Penonton
tertawa. Kening orator berkerut.
“Keluarga
saya semuanya tinggal di Indonesia. Saya sendiri disini, Australia ini, Murdoch
University.”
Tepuk
tangan kembali terdengar.
“Tapi,”
sentak orator dengan suara parau. “Itu kamu! Bagaimana dengan sebagian besar
wanita Arab, Afghanistan?”
Agaknya
sang orator tidak mau menyerah begitu saja.
“Budaya.
Budaya negeri setempat yang menebabkan itu. Islam, saya pemeluk Islam dan
belajar tentang Islam, tidak pernah melarang kaum wanita keluar rumah dan
belajar.” Tiba-tiba rasa kasihan timbul dalam diri Ping. Dia kasihan pada
wanita ini, Rosie.
“Datanglah
ke Indonesia, datanglah ke Padang. Anda akan melihat kenyataan bahwa wanita
punya peran penting di berbagai bidang kehidupan. Kami punya menteri wanita,
direktur wanita, anggota legislatif wanita. Sejak awal negeri kami merdeka dan
melakukan pemilihan wakil rakyat, wanita mempunyai hak yang sama dengan pria.
Ada banyak wanita seperti saya yang tersebar di berbagai tempat, belajar. Please,” Suara Ping makin pelan.
“Hebat!
Jika demikian, Indonesia hebat!” puji si jaket merah.
“Ya!”
Yang lain sepakat. Mereka tentu tahu, wanita amerika Serikay dan Persemakmuran
Inggris Raya tak dengan sendirinya mendapatkan hak pilih dan hak hukum lainnya.
__________
Serial
Pingkan 1 - Muthmainah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar