Senin, 18 November 2013

Islam dan Wanita



“....hak asasi wanita direnggut dengan paksa. Inilah tindakan brutal di abad 21. Bagaimana mungkin...!”
“Seperti wanita malang ini,” telunjuk sang orator mengarah tepat jke hidung gadis cantik berjilbab.
“Kawan, jangan takut kepada budaya dan pria. Raih kebebasanmu!”
“Buka penjara ini!” sang orator memegang kerudung gadis tadi.
“Apa maksudmu?” gadis itu bicara.
“Lihatlah! Gadis cantik ini patut dikasihani. Dia bahkan tidak menyadari betapa para lelaki ini (menunjuk ke pria berjenggot yang sedari tadi kalem) Telah mengatur hidupnya, mendominasi kinginannya!” Orator itu hampir berteriak. Nada bicaranya penuh kepedihan.
“Sampai kapan pembodohan ini dibiarkan terus?” Pekik orator penuh amarah.
“Islam tidak seperti itu! Itu bohong besar!” seru gadis itu (Pingkan namanya) emosional. Napasnya memburu.
Penonton bisikbisik.
“Well” Orator menatap Ping dengan pandang tak percaya, seakanakan Ping merupakan keajaiban dunia kedelapan yang tak mungkin ada. “Bukankah kamu, wanita Islam, hanya mendapat warisan separoh dari jumlah bagian pria?”
Sesaat Ping diam. Mikir. “Iya. Benar. Lalu?” tantangnya.
“Nah!” Orator merasa tenang. “Itu sewenangwenang!”
“Nggak bisa!” tangkis Ping ngotot.
Pingkan maju lebih ke depan, mendekati penonton, mahasiswa-mahasiswi yang sedari tadi mengerumuni stan organisasi feminis ini. “Itu tidak sewenangwenang karena setengah bagian itu menjadi hak mutlak wanita. Lelaki, ayah, suami, atau siapapun, tidak berhak menggunakan uang itu tanpa izin dia. Kalian tahu?” Ping menatap penontonnya dengan semangat.
“Dalam pernikahan Islam, penghasilan dan harta wanita milik pribadinya. Pembiayaan rumah tangga merupakan kewajiban penuh suami. Wanita boleh saja menyumbang dana untuk pembiayaan rumah tanggat, tapi tak ada keharusan! Bukankah itu hak istimewa sekali? Hak kepemilikan harta yang langka?” Pingkan mendekati seorang penonton wanita, si jaket merah. “Bagi saya bukan sewenang-wenang. Menurut Anda bagaimana?”
Wanita itu menggeleng, sepakat dengan Ping.
Sang orator terpaku.
“Tadi dia mengatakan kalian harus patuh dengan aturan tertentu dalam berpakaian,” seorang siswi lain angkat suara. “Apakah benar kalian dilarang mengikuti fashion?” Wajahnya menunjukkan rasa ingin tahu yang besar.
Oh, jilbab dan kebebasan.
“Jilbab menunjukkan arogansi pria terhadap wanita. Bahkan pria mencoba mengatur cara mereka berpakaian dengan tak memikirkan nilai seni. Mereka, para pria, menjajah rasa seni wanita ini!” Orator memperjelas pemikirannya.
Pingkan menarik napas jengkel. Semua orang sekarang menatapnya.
“Apakah kalian benarbenar ingin tahu perasaan saya, kami?” Ping menunjuk rombongan gadis berjilbab lainnya.
“ya, bicaralah, kali ingin dengar dari kamu,” seorang siswa mendorong Ping.
“Bicaralah!” kata siswi yang tadi bertanya.
“Oke,” Ping menenangkan perasaannya, “Pakaian ini,” dia menyapu penonton dengan pandangan mantap. “Lambang kebebasan kami!”
Terdengar suara gaduh, penonton saling berkomentar. Sang orator ternganga. Betapa tidak, pendapat Ping sangat bertolak belakang dengan keyakinannya. Betapa bodoh gadis ini!
“How?”
“Ini menarik,” komentar siswa tadi.
“Pakaian ini membuat orang menilai kami dengan siapa kami, bukan bagaimana fisik kami. orang menilai kami berdasarkan kecerdasan kami, kebaikan sifat kami, bukan berdasarkan seksi atau tidaknya tubuh kami,” Pingkan tersenyum... untuk pertama kalinya.
“Itulah pembebasan yang saya maksud. Pembebasan dari cara pandang yang mengukur kami dari kurus gemuknya badan kami, besar atau kecilnya betis kami, tinggi pendeknya tubuh kami.” Pingan berjalan menuju bagian penonton yang banyak wanitanya.
“Bahwa kami, kita, wanita,” tekannya, “lebih dari sekedar onggokan daging. Pakaian ini akan membebaskanmu dari diet yang menyiksa,” kata Ping lembut. Dia tahu, sebagian wanita didepannya melakukan diet ketat. “Pakaian ini bukti bahwa kita bebas mengontrol siapa saja yang bisa melihat kita, siapa yang bukan. Kita dengan sendirinya terbebas dari santapan mata-mata pria nakal.”
Seorang siswi tahun pertama menatap Ping tak berkedip. Hatinya tersentuh dengan konsep kebebasan Ping.
Fashion?” Ping mantap berkeliling, setengah bertanya. Suasana senyap. “Pakaian seperti ini adalah salah satu fashion!”
Beberapa orang bertepuk keras, diikuti yang lain. Muka Ping panas. Hawa dingin yang tadi dirasakannya lenyap. Kehangatan menjalar ke seluruh tubuh Ping.
“Tapi,” orator maju mendekati Ping. “Kalian tidak boleh menuntut ilmu, keluar rumah...”
“Sebentar!” Ping mengangkat tangannya.
Ada sesuatu dalam nada bicara Ping yang membuat orator terdiam.
“Menurutmu,” Ping menatap orator itu lembut. “Apa yang baru saya lakukan bersama Dr. Muller di Lab Fisika Lanjutan? Dan tolong beritahu saya, ada di mana saya sekarang?”
Penonton tertawa. Kening orator berkerut.
“Keluarga saya semuanya tinggal di Indonesia. Saya sendiri disini, Australia ini, Murdoch University.”
Tepuk tangan kembali terdengar.
“Tapi,” sentak orator dengan suara parau. “Itu kamu! Bagaimana dengan sebagian besar wanita Arab, Afghanistan?”
Agaknya sang orator tidak mau menyerah begitu saja.
“Budaya. Budaya negeri setempat yang menebabkan itu. Islam, saya pemeluk Islam dan belajar tentang Islam, tidak pernah melarang kaum wanita keluar rumah dan belajar.” Tiba-tiba rasa kasihan timbul dalam diri Ping. Dia kasihan pada wanita ini, Rosie.
“Datanglah ke Indonesia, datanglah ke Padang. Anda akan melihat kenyataan bahwa wanita punya peran penting di berbagai bidang kehidupan. Kami punya menteri wanita, direktur wanita, anggota legislatif wanita. Sejak awal negeri kami merdeka dan melakukan pemilihan wakil rakyat, wanita mempunyai hak yang sama dengan pria. Ada banyak wanita seperti saya yang tersebar di berbagai tempat, belajar. Please,” Suara Ping makin pelan.
“Hebat! Jika demikian, Indonesia hebat!” puji si jaket merah.
“Ya!” Yang lain sepakat. Mereka tentu tahu, wanita amerika Serikay dan Persemakmuran Inggris Raya tak dengan sendirinya mendapatkan hak pilih dan hak hukum lainnya.
__________
Serial Pingkan 1 - Muthmainah


Tidak ada komentar:

Posting Komentar