Senin, 29 Oktober 2012

Duhai Hati, Tabahlah !


Dalam makna memberi itu  posisi kita sangat kuat:
Kita tidak perlu kecewa atau terhina dengan penolakan, atau lemah atau melankolik saat kasih kandas karena takdirNya
Sebab di sini kita justru sedang melakukan sebuah “pekerjaan jiwa” yang besar dan agung
MENCINTAI
-M. Anis Matta-

Ya. Kita tak perlu kecewa atau terhina dengan penolakan, atau lemah atau melankolik saat kasih kandas karena takdirnya.
Saat yang kita damba ternyata tak tertulis dalam garis hidup kita atau Allah tak mengijinkan si ‘dia’ menjadi jodoh kita, jangan sedih! Jangan katakana; “aku buruk, sehingga ia kabur. Apa aku terlalu tidak layak untuknya?”
Lihatlah,
Anda­ tahu seekor kupu-kupu indah yang berterbangan dengan sayap cantiknya? Siapa ia dulu?
Ia adalah seekor ulat yang jelek. Menjijikan (itu kataku).
Ketika kita jatuh cinta dan Allah tak ijinkan untuk bersama merengkuh baarakah, dalam kesucian cinta yang mulia. Jangan bersedih! Bahwa sesungguhnya kita bukan makhluk yang tertindas oleh takdir-Nya. Percayalah.
Lihatlah kisah kupu-kupu yang mulai dari seekor ulat yang jelek dan menjijikan. Maaf, bukan maksud saya untuk menyamakan. Tapi sungguh, mudah-mudahan kita mampu belajar dari sini.
Bukankah orang yang baik adalah yang selalu menyempatkan dirinya untuk berintrospeksi diri? Muhasabah.
Bisa jadi, saat ini kita berada pada posisi ulat yang jelek dan menjijikkan, tidak apa-apa bukan jika saya menyebutnya? Lagipula saya tidak menuduh anda saja bukan? Kata “kita” yang artinya; ini juga teguran pada diri saya pribadi khususnya.
Tapi ulat itu akan mengalami proses panjang sehingga ia tumbuh menjadi seekor kupu-kupu yang cantik, anggun, mempesona, tentunya membuat mata-mata yang memandangnya menjadi kagum.
Ia berawal sebagai seekor ulat yang jelek. Sekali lagi, ia berawal sebagai seekor ulat yang jelek.
Ya. Ibaratkan saja, ini diri kita saat ini.
Kita tidak boleh minder dengan penolakan. Ketika yang didamba tak Dia ijinkan menjadi pasangan merengkuh sunnah Rasul, itu bukan sesuatu yang akan membuat kita mati bukan? (mbombongi). Atau menghentikan kehidupan kita selama ini yang penuh angan tentang bersamanya sehingga tanpanya hidup segan mati tak mau. “aku gak bisa hidup tanpanya. Ya Allah, jika ia jodohku maka dekatkanlah, jika bukan maka jodohkanlah”, hmmmmmm…!!
Cobalah kita melihat lebih dalam pada sosok kita, banyak yang tidak mengetahui siapa diri kita, bagaimana agama kita? Seharusnya ketika cinta kandas oleh takdir-Nya, kita tak lantas menyalahkan siapa-siapa, lebih-lebih jika menyalahkan Allah.
Lebih dulu, lihatlah diri kita. Kira-kira apa yang kurang dalam diri kita sehingga seorang yang kita yakini menjadi jodoh kita ternyata bukan. “ah dia shaleh, aku juga shalehah. Kami cocok lah”. Gubrakkkkk!
Kebanyakan orang jika diminta menulis kekurangan diri sendiri memang seringkali sulit menjawabnya. Sebenarnya kita tahu, tapi malu untuk mengungkapkannya. Bukankah begitu? Saya juga.
Jangan sedih karena penolakan atau kegagalan cinta. Tenanglah, lihatlah janji Allah yang tertera dengan gamblang dalam kitab suci-Nya.
QS. An-Nur: 26, yang artinya;
”Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik
dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rizki yang mulia (surga).”

Itu sudah terpampang jelas dalam kitab suci, QS. An-Nur: 26. Tak usah difikir lagi. Siapa mau mendapatkan yang baik, ia harus baik.
Ahad kemarin, saya sempat mengikuti kajian disebuah pembukaan TK Islam Terpadu di daerah kecamatan sebelah. Disalah satu kesempatan bertanya (afwan, saya lupa bagaimana pertanyaannya, tapi saya masih ingat jawabannya), pak Ustadz mengatakan; “jodoh anti adalah cerminan diri anti. Siapa yang memperbaiki dirinya, terus dan terus. InsyaAllah, ikhwan saleh pun tak ragu Allah datangkan untuk mengisi kehidupan anti membangun cinta menjulang ke menara baarakah-Nya.” Kurang lebihnya demikian.
Subhanallah.. betapa harusnya kita berpositif fikiran. Bukankah Allah bersama prasangka hamba-Nya?
Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Nabi saw. bersabda : “Allah Ta’ala berfirman : “Aku menurut sangkaan hambaKu kepadaKu, dan Aku bersamanya apabila ia ingat kepadaKu. Jika ia ingat kepadaKu dalam dirinya maka Aku mengingatnya dalam diriKu. Jika ia ingat kepadaKu dalam kelompok orang-orang yang lebih baik dari kelompok mereka. Jika ia mendekat kepadaKu sejengkal maka Aku mendekat kepadanya sehasta. jika ia mendekat kepadaKu sehasta maka Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepadaKu dengan berjalan maka Aku datang kepadanya dengan berlari-lari kecil”. (Bukhari).
Bisa jadi, ia yang akan jadi imam kita kelak, juga tengah berproses dari seekor ulat yang jelek menjadi kupu-kupu yang gagah berani yang siap menjemput kita. Bisa jadi juga si “dia” yang ternyata jadi jodoh kita nanti (bukan saat ini) karena mungkin masih berproses juga. Dan, walaupun bukan si “dia”……hmm, sulit memang agaknya.
Saatnya untuk meng –upgrade- diri kita! Perbaiki dan terus perbaiki. Sesungguhnya jika kita mau menilik keluar, ternyata ada banyak diluaran sana ustadz-ustadzah yang dengan sukarela mau membimbing kita. Kita menjadi wajib mengikuti kajian-kajian atau bacaan-bacaan yang bermanfaat untuk bekal masa depan dunia-akherat.
Seorang wanita (ibu) adalah madrasah. Ulama Salaf (terdahulu) rahimahullah berkata, didalam syairnya :“Ibu adalah sekolah pertama. Maka persiapkanlah sebaik – baik nya”.
Menikah. Bukanlah sebagai perantaraan hasrat semata. Sebagai wanita, saya dan anda adalah sekolah pertama bagi jundi-jundi Allah penerus generasi rabbani kelak. Rasanya tak adil jika mereka harus merasakan resikonya kelak, padahal sebenarnya ini salah kita yang tak mau belajar membekali diri sejak dini. Bisa jadi, kita gagal pada saat ini karena kita belum siap dalam segala segi.
Saya dan anda, mari kita bergegas memperbaiki dan terus memperbaiki. Hingga pada saatnya nanti, ketika kita telah menjadi seekor kupu-kupu yang indah dan tak lagi menjadi seekor ulat yang jelek, kita siap.
Catatan ini, saya khususkan untuk menjadi teguran pada diri saya pribadi. Jika ada sesuatu yang salah, mohon bimbingannya. JJJ

Mario Teguh Engkau yang sedang merindukan
belahan jiwamu;

Janganlah pasrah
untuk menerima apa adanya,

atau menuntut yang terbaik
untuk apa pun dirimu
yang tak berencana memperindah diri.

Dan janganlah lagi menunggu
engkau sepenuhnya siap,
karena engkau tak akan pernah siap

Berdoalah, semoga Tuhan merestui
pilihanmu untuk jiwa baik
yang membaikkanmu,
yang akan tumbuh bersamamu
dalam keluarga yang berbahagia,
yang mesra mencintaimu dalam kedamaian,
dan setia bersamamu dalam kesulitan.

Aamiin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar