Dalam makna memberi itu posisi kita sangat kuat:
Kita tidak perlu kecewa atau terhina
dengan penolakan, atau lemah atau melankolik saat kasih kandas karena takdirNya
Sebab di sini kita justru sedang
melakukan sebuah “pekerjaan jiwa” yang besar dan agung
MENCINTAI
-M. Anis Matta-
Ya. Kita tak perlu kecewa atau terhina
dengan penolakan, atau lemah atau melankolik saat kasih kandas karena
takdirnya.
Saat yang kita damba ternyata tak
tertulis dalam garis hidup kita atau Allah tak mengijinkan si ‘dia’ menjadi
jodoh kita, jangan sedih! Jangan katakana; “aku buruk, sehingga ia kabur. Apa
aku terlalu tidak layak untuknya?”
Lihatlah,
Anda tahu seekor kupu-kupu indah yang
berterbangan dengan sayap cantiknya? Siapa ia dulu?
Ia adalah seekor ulat yang jelek.
Menjijikan (itu kataku).
Ketika kita jatuh cinta dan Allah tak
ijinkan untuk bersama merengkuh baarakah, dalam kesucian cinta yang mulia.
Jangan bersedih! Bahwa sesungguhnya kita bukan makhluk yang tertindas oleh
takdir-Nya. Percayalah.
Lihatlah kisah kupu-kupu yang mulai dari
seekor ulat yang jelek dan menjijikan. Maaf, bukan maksud saya untuk menyamakan.
Tapi sungguh, mudah-mudahan kita mampu belajar dari sini.
Bukankah orang yang baik adalah yang
selalu menyempatkan dirinya untuk berintrospeksi diri? Muhasabah.
Bisa jadi, saat ini kita berada pada
posisi ulat yang jelek dan menjijikkan, tidak apa-apa bukan jika saya
menyebutnya? Lagipula saya tidak menuduh anda saja bukan? Kata “kita” yang
artinya; ini juga teguran pada diri saya pribadi khususnya.
Tapi ulat itu akan mengalami proses
panjang sehingga ia tumbuh menjadi seekor kupu-kupu yang cantik, anggun,
mempesona, tentunya membuat mata-mata yang memandangnya menjadi kagum.
Ia berawal sebagai seekor ulat yang
jelek. Sekali lagi, ia berawal sebagai seekor ulat yang jelek.
Ya. Ibaratkan saja, ini diri kita saat
ini.
Kita tidak boleh minder dengan
penolakan. Ketika yang didamba tak Dia ijinkan menjadi pasangan merengkuh
sunnah Rasul, itu bukan sesuatu yang akan membuat kita mati bukan? (mbombongi).
Atau menghentikan kehidupan kita selama ini yang penuh angan tentang bersamanya
sehingga tanpanya hidup segan mati tak mau. “aku gak bisa hidup tanpanya. Ya
Allah, jika ia jodohku maka dekatkanlah, jika bukan maka jodohkanlah”,
hmmmmmm…!!
Cobalah kita melihat lebih dalam pada
sosok kita, banyak yang tidak mengetahui siapa diri kita, bagaimana agama kita?
Seharusnya ketika cinta kandas oleh takdir-Nya, kita tak lantas menyalahkan
siapa-siapa, lebih-lebih jika menyalahkan Allah.
Lebih dulu, lihatlah diri kita.
Kira-kira apa yang kurang dalam diri kita sehingga seorang yang kita yakini
menjadi jodoh kita ternyata bukan. “ah dia shaleh, aku juga shalehah. Kami
cocok lah”. Gubrakkkkk!
Kebanyakan orang jika diminta menulis
kekurangan diri sendiri memang seringkali sulit menjawabnya. Sebenarnya kita
tahu, tapi malu untuk mengungkapkannya. Bukankah begitu? Saya juga.
Jangan sedih karena penolakan atau
kegagalan cinta. Tenanglah, lihatlah janji Allah yang tertera dengan gamblang
dalam kitab suci-Nya.
QS. An-Nur: 26, yang artinya;
”Wanita-wanita yang keji adalah untuk
laki-laki yang keji dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang
keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik
dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rizki yang mulia (surga).”
dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rizki yang mulia (surga).”
Itu sudah terpampang jelas dalam kitab
suci, QS. An-Nur: 26. Tak usah difikir lagi. Siapa mau mendapatkan yang baik,
ia harus baik.
Ahad kemarin, saya sempat mengikuti
kajian disebuah pembukaan TK Islam Terpadu di daerah kecamatan sebelah. Disalah
satu kesempatan bertanya (afwan, saya lupa bagaimana pertanyaannya, tapi saya
masih ingat jawabannya), pak Ustadz mengatakan; “jodoh anti adalah cerminan
diri anti. Siapa yang memperbaiki dirinya, terus dan terus. InsyaAllah, ikhwan
saleh pun tak ragu Allah datangkan untuk mengisi kehidupan anti membangun cinta
menjulang ke menara baarakah-Nya.” Kurang lebihnya demikian.
Subhanallah.. betapa harusnya kita
berpositif fikiran. Bukankah Allah bersama prasangka hamba-Nya?
Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Nabi
saw. bersabda : “Allah Ta’ala berfirman : “Aku menurut sangkaan hambaKu
kepadaKu, dan Aku bersamanya apabila ia ingat kepadaKu. Jika ia ingat kepadaKu
dalam dirinya maka Aku mengingatnya dalam diriKu. Jika ia ingat kepadaKu dalam
kelompok orang-orang yang lebih baik dari kelompok mereka. Jika ia mendekat
kepadaKu sejengkal maka Aku mendekat kepadanya sehasta. jika ia mendekat
kepadaKu sehasta maka Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepadaKu
dengan berjalan maka Aku datang kepadanya dengan berlari-lari kecil”.
(Bukhari).
Bisa jadi, ia yang akan jadi imam kita
kelak, juga tengah berproses dari seekor ulat yang jelek menjadi kupu-kupu yang
gagah berani yang siap menjemput kita. Bisa jadi juga si “dia” yang ternyata
jadi jodoh kita nanti (bukan saat ini) karena mungkin masih berproses juga.
Dan, walaupun bukan si “dia”……hmm, sulit memang agaknya.
Saatnya untuk meng –upgrade- diri kita!
Perbaiki dan terus perbaiki. Sesungguhnya jika kita mau menilik keluar,
ternyata ada banyak diluaran sana ustadz-ustadzah yang dengan sukarela mau
membimbing kita. Kita menjadi wajib mengikuti kajian-kajian atau bacaan-bacaan yang
bermanfaat untuk bekal masa depan dunia-akherat.
Seorang wanita (ibu) adalah madrasah.
Ulama Salaf (terdahulu) rahimahullah berkata, didalam syairnya :“Ibu adalah
sekolah pertama. Maka persiapkanlah sebaik – baik nya”.
Menikah. Bukanlah sebagai perantaraan
hasrat semata. Sebagai wanita, saya dan anda adalah sekolah pertama bagi
jundi-jundi Allah penerus generasi rabbani kelak. Rasanya tak adil jika mereka
harus merasakan resikonya kelak, padahal sebenarnya ini salah kita yang tak mau
belajar membekali diri sejak dini. Bisa jadi, kita gagal pada saat ini karena
kita belum siap dalam segala segi.
Saya dan anda, mari kita bergegas
memperbaiki dan terus memperbaiki. Hingga pada saatnya nanti, ketika kita telah
menjadi seekor kupu-kupu yang indah dan tak lagi menjadi seekor ulat yang
jelek, kita siap.
Catatan ini, saya khususkan untuk
menjadi teguran pada diri saya pribadi. Jika ada sesuatu yang salah, mohon
bimbingannya. JJJ
Mario Teguh Engkau yang sedang merindukan
belahan jiwamu;
Janganlah pasrah
untuk menerima apa adanya,
atau menuntut yang terbaik
untuk apa pun dirimu
yang tak berencana memperindah diri.
Dan janganlah lagi menunggu
engkau sepenuhnya siap,
karena engkau tak akan pernah siap
Berdoalah, semoga Tuhan merestui
pilihanmu untuk jiwa baik
yang membaikkanmu,
yang akan tumbuh bersamamu
dalam keluarga yang berbahagia,
yang mesra mencintaimu dalam kedamaian,
dan setia bersamamu dalam kesulitan.
Aamiin
belahan jiwamu;
Janganlah pasrah
untuk menerima apa adanya,
atau menuntut yang terbaik
untuk apa pun dirimu
yang tak berencana memperindah diri.
Dan janganlah lagi menunggu
engkau sepenuhnya siap,
karena engkau tak akan pernah siap
Berdoalah, semoga Tuhan merestui
pilihanmu untuk jiwa baik
yang membaikkanmu,
yang akan tumbuh bersamamu
dalam keluarga yang berbahagia,
yang mesra mencintaimu dalam kedamaian,
dan setia bersamamu dalam kesulitan.
Aamiin
Tidak ada komentar:
Posting Komentar