Rabu, 28 Maret 2012

Hadiah Abadi

Aku ibu dari satu orang putra dan satu orang putri.
Hidup ini indah sekali aku nikmati bersama suami tercinta, "you are my everything" kata suamiku, so sweet.

Lima tahun yang lalu, sebelum putri kecilku lahir...

Suamiku menerima tugas mulia, ia dikirim sebagai pemberantas pasukan GAM (Gerakan Aceh Merdeka) di Aceh. Tanpa fikir 1000X aku langsung mengijinkannya pergi, aku bangga punya dia. Bangga sekali. Sungguh!

"Pergilah mas, ade akan baik-baik saja bersama putra tercinta kita.. Percayalah."
kataku saat hari dimana ia harus pergi, ia mencium keningku dan putra kami.
Aku berusaha tegar menghadapi kenyataan akan berpisah dengannya selama sembilan bulan lamanya.
Dengan gagah ia pun pergi bersama pasukan lain.
Aku memalingkan badan dan menangis, aku tak berani menangis dihadapannya.
Lucu sekali.
Sementara anakku terus melambaikan tangan salam tanda sampai jumpa dengan ayahnya.


Sembilan bulan akan terasa lama sekali bagiku.
Bagaimana keadaannya sekarang?
Dia makan apa?
Tidur dimana, beralas apa?
Siapa yang menyiapkan makanan untuknya?
Siapa yang mencucikan bajunya?
Siapa yang memijitnya ketika lelah?
Siapa yang memotong rambutnya ketika telah panjang?
Suamiku, aku rindu. Aku yakin kau juga merindukan kami. Doaku selalu untukmu...,

..........
Besok.
Besok ia pulang.
Alhamdulillah.
Rinduku akan segera tertebus.

Rumah sudah rapi, masakan kesukaannya sudah tersedia di meja makan. Aku berdandan secantik mungkin, Rama anakku pun sudah bersiap dengan gagah menyambut ayah tercinta yang berjiwa satria.

Ia datang.
Gagahnya ia, meski agak hitam dibanding sebelum berangkat ke Aceh.


Dua bulan berlalu,
Aku hamil. Bahagianya kami...

Pada usia kehamilanku yang ke tujuh, suamiku jatuh sakit.
Tubuhnya kurus kering.
Sakit apa ini?? Aku baru pernah melihat penyakit begini.
Akhirnya aku bawa suamiku ke rumah sakit,
Lunas sudah terjawab semua tanda tanyaku tentang sakit yang diderita suamiku setelah mendengar kalimat melegakan, "suami ibu terkena tyfus, tenanglah.."

Dua bulan berlalu,
Minggu depan adalah hari perkiraan lahirnya buah cinta kami.
Suamiku tercinta meninggalkan kami untuk selama-lamanya karena sakit yang ia derita. Ia berpulang.
"tidakkah Kau ijinkan ia bertahan sampai melihat buah cinta kami yang sudah kami tunggu selama sembilan bulan lahir??" tanyaku pada Allah.
Astaghfirullah. Maafkan aku. Ya, ini kehendak Tuhan, aku tahu itu.

Seminggu berlalu, lebih dua hari..
Lahirlah buah cinta kami, putri cantik yang kuberi nama Rana.


Tiga bulan usia putriku, aku jatuh sakit. Sama persis seperti sakitnya suamiku.
Orangtuaku membawaku ke rumah sakit yang berbeda dengan rumah sakit yang dulu suamiku dirawat didalamnya.

Kenyataan yang luar biasa.
Ini adalah hadiah abadi dari suamiku sepulang dinas sembilan bulan lamanya yang akan melekat di diriku sepanjang hidupku.
HIV AIDS..!!
Ya. Aku terkena HIV AIDS setelah cek darah dilakukan.

Kenyataan luar biasa lagi, putriku juga menerima penyakit itu. Kata dokter, juga setelah cek darah.

Ya. Ini oleh-oleh untukku dari suamiku sepulang dinas, lalu hamil lah aku, dan putriku ikut tertular oleh darahku yang tengah terjangkit penyakit itu selama ia berada dirahimku.
Rana, sayang maafkan mamah....

"kenapa dokter itu bohong???!!!
menipuku!!
membiarkan aku terkena penyakit yang sama suamiku derita dahulu!!
sangat menyakitkan!!"

...........

4 tahun aku merawat putriku, Rana.
Dan 4 tahun itu pula lah aku berperang dengan nafsuku, ingin sekali aku meracuninya, biar mati saja ia. Kemudian aku akan ikut mati dengan Rana. Aku rasa dunia tak lagi indah!
Lihat saja Rana yang tak berdosa itu, wajahnya yang polos, tidak tahu apa-apa, tanpa ia sadari, ada penyakit HIV di dalam tubuhnya.

Aku jadi korban penghianatan cinta???
Aku jadi korban binatang buas berwujud manusia gagah???
Ini balasan kesetiaanku???
Aku tidak pernah menjual diriku pada siapapun!
Kaulah satu-satunya yang berhak memiliki aku, tapi apa balasanmu???

Hari-hariku penuh keputus asaan.
Aku harus terus menyembunyikan penyakit ini, demi Rana putri kecilku..


Kini, aku bertanya pada kalian,
Mengapa orang setia mendapatkan orang yang tak setia?
Bagaimana dengan ungkapan yang tak lagi asing ditelinga kita, yaitu; "Jodoh kita adalah cerminan diri kita" ??


*Terinspirasi dari kisah nyata seorang wanita luar biasa ^-^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar