Rabu, 28 Maret 2012

Bapak

Barusan, aku buka catatan-catatan lamaku yang dulu sengaja aku simpan di CD, ada satu catatan yang ku pilih dibuka terlebih dahulu.
Pada saat itu, guru bahasa Indonesia menugaskan siswa siswinya membuat cerpen. Berlembar-lembar kertas ku habiskan untuk membuat cerpen, itu pertama kalinya aku menulis cerpen. Hehe,

Kramat, 2007.
Aku Cinta Kau Bapak

Ketika ufuk timur setengah memancarkan cahaya terangnya, riuh ayam jantan menyadarkan aku dari selimut mimpi yang hitam dan kelam. Aku bangun dan duduk sejenak. Tak lama selang waktu, suara klakson terdengar berkali-kali, tiba-tiba bel rumah pun ikut berdentang. Dalam benak bertanya; “siapa ya pagi buta bertamu?.” Aku bangunkan ibu yang tidur lelap disampingku, kemudian ibu beranjak membuka pintu, aku intip dari dalam, perlahan ku lihat ibu amat-amati dua pria yang berdiri tepat didepan pintu karena hari masih cukup gelap. Nampaknya dua pria itu polisi, entah apa yang mereka katakan pada ibu. Kemudian ibu menyuruhku membangunkan nenek dan kakek lalu segera bergegas. Lima belas menit selesai bergegas, kemudian aku, ibu, nenek, kakek, dan Airin adikku yang berumur empat tahun pergi meninggalkan rumah dengan mobil.


Pukul 07.00 WIB gemuruh kota kami injak, rem mobil menghentikan lajunya di tempat parkir Unit Gawat Darurat.
“kenapa kesini?.” Tanyaku dalam benak.
Ketukan sepatu berlomba kecepatan, kakek, nenek, dan ibu berjalan seperti pesawat jet, raut wajahnya bagai langit tertutup awan mendung. Aku yang tak tahu-menahupun mengikuti langkah mereka.
Kami memasuki kamar pasien berpapan anggrek, terlihat seorang pria paruhbaya terbaring diatas ranjang terlihat parah, keningnya dibalut kain putih, ia rekan bapak yang semalam mengajak bapak pergi, tapi kenapa disini tidak ada bapak, “kemana bapak?.” Pria itu bilang bapak baik-baik saja, beliau sedang ngopi diluar, kami merasa lega sekali. Sekarang tanya yang menyelimuti hati terjawab sudah, ternyata semalam bapak dan rekannya mengalami kecelakaan hebat. Setelah lama kami menunggu, bapak tak kunjung datang, akhirnya kakek segera menyusulnya keluar. Tiga puluh menit berlalu, kakek datang, kemudian beliau mendekat lalu berbisik pada nenek dan ibu. Spontan nenek dan ibu menangis histeris, hingga ibu jatuh tak sadarkan diri.
“sebenarnya ada apa?.” Tanya itu berkeliaran dalam hati namun lidah tetap beku. Aku yang pada saat itu masih duduk di kelas tiga Sekolah Dasar.
Aku ditemani nenek dan seorang perawat menemani ibu, alhamdulillah ibu sudah siuman, namun beliau terus meneteskan airmatanya. Kemudian, perawat itu bertanya padaku; “de, yang meninggal itu kakaknya ade ya?.” <aku terdiam="">. “bapak….” lirihku. “itu ayahnya.” Kata ibu menjelaskan pada perawat itu. Bapak memang masih terlihat muda, wajahnya tampan, kulitnya putih, usianya tiga puluh tiga tahun, jadi pantas perawat itu menyangka beliau kakakku, mungkin. Ibu segera mendekapku dan Airin, tak henti-hentinya kuteteskan airmata dalam dekapannya.</aku>


Jarum jam berdetak pasti menunjukkan pukul 08.00 WIB, kami menunggu jenazah bapak diluar Rumah Sakit. Tiba-tiba sesosok tubuh melintas dihadapan kami dengan ranjang besi dan selimut hijau becorak bunga-bunga, “itu bapak, bapak yang kemarin sore masih erat memelukku, apakah ia mendengar tangis hatiku?.” Batinku.
“bapak mana ibu?.” Tanya Airin dengan wajah lugunya. Ibu menahan derai airmatanya; “bapak sudah tenang, lagi istirahat sayang”.
Setelah jenazah masuk dalam ambulance kami pulang, gemuruh kota kami tinggalkan dengan membawa duka.


Terlihat bapak-bapak dan ibu-ibu berbondong-bondong untuk datang melayat. Pukul 11.00 WIB kami tiba dirumah setelah ambulance tiba lebih dulu. Kami masuk, sesosok tubuh berbalutkan kain putih terbujur tak bernyawa dengan naungan ayat-ayat suci Al-Qur’an menemaninya di ruang tengah, akupun kembali menangis, ibu jatuh pingsan, Airin yang tak tahu menahupun ikut menangis histeris. Tiba-tiba seseorang mendekapku dari belakang, setelah kulihat, ternyata ia pria yang begitu tega mengantar bapak pada maut, dan pria yang menutupi kematian bapak kandungku. Aku segera terlepas, tak sudi aku bersentuhan dengannya, “pembohong, pembunuh!!!.” Teriakku.


Inikah jawaban dari mimpi semalam? Aku, ibu, dan Airin menebar sekeranjang bunga disuatu tempat kemudian bunga itu terbang dan lenyap, lalu bapak berkata; “bapak senang, kalian jangan ikut bapak ya. Bapak sayang kalian.”
Semua amat kehilangan. Alloh hanya memberi tiga puluh tiga tahun untuk bapak mengabdi pada-Nya. Kini sosok Imam dan ayah yang bijaksana t’lah kembali ke Rahmatullah.
Bapak, Aya akan mulai belajar menerima kenyataan, entah seperti empedu ataupun madu, karena bapak selalu mengajarkan Aya tentang pahit manisnya kehidupan. Aya juga akan menjaga ibu dan Airin.
Rasanya saat kau ucapkan kata itu dalam mimpiku, ingin kuraih tanganmu, namun aku tak mampu, kini kau ada di suatu tempat yang tak mampu ku jangkau. Kadang aku sedih, aku ingin teriak, jika tidak ada iman di dada mungkin aku sudah memilih lenyap ditelan bumi karena aku tak tahan melihat ibu terus menangis kala malam sunyi, selain Alloh tiada lagi tempatnya bersandar, ia menutupi kesedihannya dengan senyumnya. Apalagi saat Airin menanyakanmu bapak, ibu hanya dapat menjawab; “sabar sayang, bapak sedang istirahat.”, setelah itu ibu pergi kekamar mandi lalu menangis. Ibu juga harus menjadi ibu sekaligus bapak untuk banting tulang menafkahi kami, ibu rindu kata-kata nyaring setiap ba’da maghrib: “bikinkan teh pahit untuk bapak, bu..”

Aya ingin bapak tau, kami semua akan selalu merindukanmu, merindukan sholat berjamaah denganmu, belaianmu, impianmu terhadap anak-anakmu, candamu, senyummu, aroma wangi tubuhmu, apalagi setiap pagi saat Aya beranjak ke sekolah jika ibu tidak sempat bapak selalu menyiapkan nasi goreng special buatan bapak untuk bekal sekolah, meskipun selalu kepedasan atau keasinan tapi Aya senang, dan itu semua yang akan kami rindukan darimu bapak…… Alloh, tempatkan bapak ditempat yang paling indah, ampuni dosanya, kumohon jangan siksa dia. Kabulkan doa kami yang akan selalu merindu bapaknya. I Love You Dad.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar