Kamis, 10 November 2011
Titip setetes airmata rindu untuk murobbiah tercinta..
Kau tau mbak?
Dulu aku begitu takut melihat gerombolan-gerombolan manusia yang panjang jilbabnya hingga menutup separuh badannya. Bayanganku tak dapat digambarkan, pokoknya takut lah, gitu ajah:)
Setelah panjangnya jalanan terjal kehidupan kuarungi, hingga pada akhirnya hatiku bertepi dirumahmu. Rumah rindang penuh cinta.
Lewat kau sebagai perantara, aku menjadi tahu bagaimana seharusnya aku hidup diatas bumi ini, bumi kepunyaan Allah yang tiada sekutu bagi-Nya.
Lewat kau, aku terbius dalam nikmatnya ukhuwah, sungguh nikmat!
Lewat kau, sesuatu yang dulu aku takuti menjadi sesuatu yang aku cintai, dan tak lagi menjadi sebuah kewajiban semata, namun telah menjadi sebuah kebutuhan.
Lewat kau pula, yang tak tahu sama sekali, minimal menjadi tahu.
Tulusnya cinta, kasih dan sayangmu..
Aku yakin selain hati yang telah Dia gerakkan, itu juga yang membuat aku tetap bertahan disini. Sekali lagi, sepertinya aku terbius oleh sinar keimanan yang engkau pancarkan lewat sorot matamu, tutur katamu, juga sentuhan lembutmu.
Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
Luar biasa!
Kau membuatku selalu rindu, padahal di akhir pekan Allah selalu beri kita kesempatan untuk saling jabat tangan disertai sun manis pipi kanan dan kiri.
Hingga detik inipun, ketika setiap akhir pekan aku tak lagi dapat mengunjungimu untuk belajar bersama, karena tuntutan menuntut ilmu dan yang jaraknya tidak dekat, aku tetap merindukanmu bahkan sangat merindukanmu.
Kau ingat ketika aku tiba-tiba jatuh sakit dijalan karena memang kondisiku lemah pada saat itu?
Badanku panas, tubuhku gemetaran, aku takut membuka mataku, karena semuanya gelap.
Aku kira nafasku pada saat itu akan berhenti.
Dengan penuh kasih sayang, kau sandarkan aku dipangkuanmu, kau tenangkan aku yang tak berdaya dan terus mengigau.Malu sekali kalau ingat itu, aku yang kata teman-teman sehat selalu itu begitu tak berdaya pada saat itu.
Mbak, ijinkan aku mengucapkan banyak terima kasih padamu.
Aku banyak mengalami perubahan dari beberapa sisi dalam diriku.
Kau sudah seperti buku diary ku, namun bedanya kau bisa tersenyum dan tak jarang ikut memberi solusi atas curahan hatiku.
Atau kadang, aku hanya minta kau menjadi pendengarku, melihat respon dan perhatianmu saja, sungguh sangat menyenangkan.
Ucapan beribu-ribu terima kasih juga terucap dari hati terdalam seorang ibu kepadamu, ibu yang telah melahirkan aku.
Syukur tiada henti atas karunia ini.
Mbak, i miss u..
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar