Kamis, 10 November 2011
Sebuah Inspirasi
Kondisi ekonomi keluarga yang membuatku lebih memilih tinggal bersama Pakdhe dan Budhe yang memang belum juga di karuniai seorang anak. Alasannya, untuk meringankan beban ibu. Rumahnya jauh, beda desa, tapi masih satu kecamatan.
Saat itu aku masuk SMP. Bapak sudah tiada semenjak aku SD kelas dua. Ibuku dirumah berasama dua kakak laki-laki dan satu adik perempuanku, mereka hidup dengan ekonomi yang kurang dari cukup. Aku tidak meminta uang jajan ataupun uang sekolah pada ibu, kasihan.
Aku jadi sering nunggak SPP. Budhe juga tidak memberiku uang, mungkin budhe mengira ibu memberiku, padahal sama-sama tidak. Paling jika pakdhe pulang kerja, aku diberi uang untuk bayar SPP. Pakdhe, kakak laki-laki ibu.
Mau makanpun, aku harus kerja dulu, membantu budhe. Mencuci, membersihkan rumah. Baru makan.
Satu hal yang masih aku ingat hingga sekarang. Sakitnya penghinaan.Ya. Keponakan budhe, tepatnya anak dari adik budhe, namanya Eli. Dia dan dua orang sepupuhnya yang juga sama-sama anak dari adik budhe sekolah di sekolah yang sama denganku. Pagi itu...
"Wat, nih. Kamu pasti laper kan?.." tanya Santi dengan memberikan dua buah gorengan bakwan.
Aku segera menerimanya. Saat itu aku memang lapar. Bayangkan saja, tadi pagi aku hanya sarapan nasi putih, kata budhe lauknya belum matang. Dan sekarang sudah jam 12, perutku lapar. Jangankan bayar SPP, uang saku pun aku tak punya. Santi, teman satu bangku. Dia memang selalu menyisakan sedikit uang jajannya untuk membelikan aku gorengan.
Di bangku tempat aku dan Santi duduk, aku makan dengan lahapnya. Kemudian Eli dan kedua sepupuhnya yang sudah kuanggap sebagai saudaraku sendiri, lewat depan kelasku. Kemudian mereka yang bertetangga kelas denganku masuk ke kelasku.
"Wati itu kan kacungnya Budheku..." terangnya didepan teman satu kelasku. Teman satu kelas hanya bengong. Mungkin kasihan padaku.
Mendengar hal itu, seketika aku berhenti dari kelahapanku. Sakit sekali hati ini. Perih. Santi menenangkanku.
Pak Kartono, guru matematika datang. Mereka bertiga segera pergi.Pelajaran di jam terakhir di mulai. Sementara aku masih sesenggukan. Pak Kartono bingung. Teman-teman semua diam. Kemudian akhirnya aku disuruh pergi ke UKS. Santi berbohong, dia bilang aku sakit. Ya, tidak salah. Aku memang sakit hati.
Bel tanda pulang berdentang. Pak Kartono datang menemui aku yang di temani Santi di UKS. Singkat cerita, aku menceritakan semua yang terjadi antara aku dan ketiga saudaraku tadi serta kehidupanku yang numpang di rumah pakdhe dan budhe.
"kalian itu kan bersaudara, kenapa bisa seperti ini ya? Masya Allah..." kata pak Kartono bingung.
Setelah kejadian itu. Aku yang memang selalu masuk tiga besar -alhamdulillah-, selalu mendapat perhatian dari guru-guru. Saat kenaikan kelas, aku di belikan buku tulis maupun LKS serta alat tulisnya. Alhamdulillah..
....
Malam itu, kedua kakak laki-lakiku datang menjengukku. Mereka terlihat sedih. Oh Tuhan, ternyata mereka baru saja putus sekolah. Lagi-lagi dengan alasan ekonomi. Dan malam itu mereka berpamitan untuk pergi ke ibu kota. Astaghfirullah... Ibu sudah tidak mampu lagi menyekolahkan kedua kakakku. Kini tinggal aku, aku harus tetap bertahan.
Subhanallah! Aku masih punya semangat yang tinggi! Aku bisa masuk SMA.
Namun sama seperti saat SMP, SPPku selalu nunggak. Untungnya ada Ali. Dia anak pertama dari kakaknya budhe. Rumah kami berdekatan. Saat sekolah di SUPM dia dibuatkan warung rokok di pom bensin dekat rumah kami oleh bapaknya, yaitu kakaknya budh. Dia berjualan setelah pulang sekolah.
Dia sering memberiku uang untuk bayar SPP yang nunggak. Ali dan keluarganya berbeda dengan keluarga Eli dan kedua sepupuhnya itu. Ali dan keluarganya sayang padaku, mungkin karena mereka kasihan pada anak yatim dengan seorang ibu yang miskin ini. Tapi hal itu tidak lantas berlangsung terus menerus, hanya ketika nunggak saja, lagipula aku malu pada Ali, dia kan juga sekolah tentu juga butuh biaya.
Aku juga sering mencari uang. Caranya? Aku pergi ke saudara-saudara almarhum bapak, kadang pulangnya di beri uang jajan. Ya itulah yang kemudian aku kumpulkan untuk bayar SPP.
Setelah lulus SMA aku dinikahkan oleh pakdhe juga budhe, tentu atas persetujuan ibu. Tidak lain juga tidak bukan, aku dinikahkan dengan Ali, keponakan budhe. Kalau dihitung-hitung ya kami saudara, tapi saudara jauh. Dan setelah itu, dia bekerja di sebuah pabrik sebagai seorang petugas keamanan, satpam. Sementara aku mencoba melamar sebagai karyawan tata usaha di tempat aku SMP dulu.
Sebagian guru-guru yang mengajarku dulu masih ada, mereka masih mengenalku dengan baik. Karena mereka tau dulu aku berprestasi, akhirnya pihak sekolah juga mempertimbangkan hal itu. Akhirnya aku punya kerjaan.
Dua bulan kemudian aku hamil, dan satu tahunnya lagi kami punya anak perempuan yang kami beri nama Gita.
Saat ia duduk di bangku TK, aku melanjutkan studyku. Alhamdulillah aku bisa meneruskan, aku bisa kuliah. Ali, suamiku punya andil besar. Dia yang membantu biayanya hingga aku bisa jadi sarjana pendidikan.
Sayang, saat Gita kelas tiga SD, Ali meninggal karena kecelakaan. Itu membuat Gita menjadi anak yatim, sama seperti aku dulu. Namun bedanya, dia tidak akan menjadi anak malang. Aku bertekad akan mengangkat derajatnya!
Alhamdulillah, sekarang dia sudah hampir sembilan belas tahun. Kuliah semester tiga di sebuah sekolah tinggi swasta. Insya Allah, dua tahun lagi ia lulus. Mudahkan langkahnya. Beri yang terbaik baginya. Sukseskan ia dunia-akherat. Aamiin. Itu doaku.
###terima kasih ibu, kisahmu menginspirasi hidupku, ada semangat baru yang muncul di dada ini. Kau terindah, akan selalu menjadi yang terindah.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar