Kamis, 04 Agustus 2011

Wahai Kakek dan Nenek yang LUAR BIASA

Jika aku jadi kau atau sebagai putrimu, entahlah apa aku sanggup berdiri dilampu merah sembari memegang sebuah botol aqua gelas dan meminta sekeping koin dari pengguna jalanan, wahai bapak tua di lampu merah.......

Mungkin aku takkan sanggup.
Dengan kehidupan yang serba cukup ini pun kadang aku masih saja mengeluh. Jika aku ditawarkan untuk mencoba hidup seperti mereka, mungkin itu bagus. Tapi aku takut. Aku manusia biasa.

Memang selayaknya aku bersyukur, menjadi mahasiswi disebuah perguruan tinggi disebuah kota yang tak jauh dari kotanya sendiri. Hal itu memudahkanku untuk dapat pulang setiap minggunya. Dan setiap kepulanganku, ada saja hal yang menarik dalam perjalanan, itu kataku.

Bapak tua itu berdiri di tiang lampu jalanan dekat lampu merah. Kakinya tak beralas. padahal hari panas sekali. Aku yang duduk di dalam bus saja rasanya tak karuan. Saat lampu merah menyala, beliau bergegas, dengan topi yang robek bagian belakangnya, mengetuk kaca mobil dari mobil satu ke mobil yang lain, di jalan kota durasi lampu merah memang begitu lama, itu menjadi kesempatan emas untuk bapak tua itu. Ia siap diberi dan ditolak permintaannya.

....
Ada lagi, nenek tua penjual kelapa keliling.
Hampir setiap menjelang siang aku melihatmu. Langkahmu mulai rapuh, dan keadaan yang tak mau mengerti itu. Kau harus berjalan berkilo-kilo meter untuk menjajakkan daganganmu. Nenekku dirumah masih lebih muda daripada engkau. Sangat tua, dan sudah rapuh. Kadang aku berfikir dimana anak cucu dan menantumu? harusnya aku berpositif fikiran, memang harus.
Suatu hari, ketika engkau beristirahat di masjid dekat kampus di siang hari, mungkin karena lelah. Dengan daganganmu yang masih utuh. Aku duduk disampingmu, karena sepatuku kebetulan ada didekatmu setelah sholat dzuhur.
Kau coba berkipas-kipas dengan selendang yang kau gunakan untuk menggendong daganganmu, kau bertanya; "sekolah nduk?". Aku menengok kesamping kanan kiri, belakang, ternyata tidak ada siapa-siapa, berarti nenek bertanya padaku. "injih mbah..".
"anakku yo sak koe nduk, nanging mboten sekolah, wong ngge tumbas uwos mboten cekap, nopo maleh ngge sekolah". kata sang nenek.
Aku berhenti sejenak dari memakai kaos kaki, dan melihatnya masih saja berkipas-kipas.
"Sekolah seng pinter nduk. Nek sekolah niku wonten regine. Lha nek mboten sekolah, kados kulo nggeh mboten wonten regine, saestu."
Aku menunduk. Kau berharga nek, siapa bilang kau tidak berharga? Allah yang akan menilaimu. Dan kau luar biasa untukku. Seharusnya aku yang berbahasa sepertimu.
Lagi-lagi aku hanya tersenyum.

Kalu saja aku jadi kalian berdua, mungkin sudah sesak nafasku ini, atau bahkan tak lagi sanggup bernafas. Kalian sungguh luar biasa!
Aku belajar banyak dari kalian, wahai kakek dan nenek. Kerapuhanmu tak jadi masalah untuk terus berusaha. Sementara aku? Duduk manis menunggu ayah dan ibu menerima gajih tiap bulannya. Dengan gampang pula, dipertengahan bulan jika habis minta lagi. Sungguh tak berguna!

Kalian,,
Luar biasa..
LUAR BIASA !!
LUAR BIASA !!

Ya Allah, aku percaya ini bukan hal sia-sia, ketika aku bertemu mereka, itu artinya Kau mengingatkanku. Senantiasalah mengingatkanku wahai Dzat yang maha pemurah..
Jaga nenek dan kakek itu, muliakan mereka. Jikalau didunia mereka tak punya harga, pastilah di akherat kelak mereka akan jadi orang yang LUAR BIASA!
Kalian,, Luar biasa.. LUAR BIASA !! LUAR BIASA !!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar