"Kehilangan, akan mengajari kita menghargai sebuah arti.."
Sadarkan ini baik-baik, sebelum terjadi.
----Sejak perpisahan menyakitkan belasan tahun lalu. Saat jalanan merenggut paksa lelaki terkasih, ayah yang juga teman baik. Rasanya hidup hanya tersisa separuh. Ada yang tidak tergantikan dihati. Rasanya kosong. Seperti tak ditempatnya. Hari-hari tak bersemangat. Selalu saja berfikir; "Besok, kalau aku mati, aku hanya minta kalian mengantarku, menjadi saksi betapa banyak kenangan yang ikut terbawa bersamaku".
Dokter itu manusia. Lalu apa sebabnya ia seakan bisa menjadi orang paling jahat yang vonisnya mematikan semangat. Sebab dia punya ilmu, ilmu, dari ilmu ia bisa mendiagnosa. Sayangnya ia bukan Tuhan, maka segala penyakit berasal dari Tuhan dan Tuhan pula yang mampu menyembuhkan, dokter hanyalah perantara usaha.
Ketika teman-teman sibuk membuatkan pohon harapan di pojok kamarku, yang wajib diisi daunnya dengan harapan 'sembuh' lewat tulisan setiap paginya. Ketika orang-orang mulai perhatian. Ketika hari itu aku jatuh. Saat kubuka mata, hanya wajah-wajah orang terkasih yang nampak dihadapan, membuatku tidak merasa sendiri.
Lambat laun,
Ketika butiran-butiran itu menjadi wajib dikonsumsi, menjadi permen terpahit.. ketika ia hanya menjadi penambah harapan hidup yang harusnya kematian memang sudah dekat jadi terlihat lambat..
Aku mulai bosan merasakan tempat tidur, senyaman apapun itu..
Pohon harapan tidak pernah berhenti mendengar, mendengar rintihan-rintihan yang menjenuhkan,,
Aku hingga pernah membuat check list tentang diriku, seandainya aku mati, orang-orang akan mengingatku sebagai gadis aneh, gadis melankolis, gadis cerewet, gadis serba tidak bisa, gadis manja, gadis... ah!!! Oh Tuhan.. tidak!
Ah! Tuhan..
Bahkan aku pernah berfikir jika seandainya aku pergi terlalu cepat sebelum semua harapan terwujud, apakah ada yang menganggapku punya 'arti', sementara kehidupan rasanya sudah pengap dengan orang-orang yang tidak peduli lagi, acuh, sementara dunia dipenuhi orang-orang yang berjalan mendongak, sementara aku,, apa yang sudah kulakukan yang membuat mereka akan mengingatku dengan baik?
Berulangkali ruang radiologi memaksaku menjadi makhluk aneh. Lagi dan lagi...
Lagi lagi alat-alat itu cuma menjadi penambah kecemasan,,
Berkali-kali aku berjaniji menyerah..
Dan saat aku menulis ini,, sungguh sudah tidak ada lagi harapan kecuali kelak Tuhan menjaga Mama dengan baik. Tuhan sudah lama berbaik hati.. Lalu biarkan sejenak aku mengosongkan ginjalku dari permen terpahit itu, oh sungguh leganya..
Lihatlah, nampaknya Papa sudah hampir dekat menjemput putrinya...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar