Kamis, 06 Desember 2012

Ayah, Andai Aku Dapat Membawamu Ke Surga



By; Oktaviani Ferla Ayunda
            Aku merasa, kadang hidup tidak begitu adil terhadapku. Kehilangan orang yang begitu berarti dalam  hidup adalah ibarat ruangan yang sebelumnya penuh dengan isinya tiba-tiba hilang isi. Kosong. Hampa. Ya, itu kualami sebelas tahun yang lalu saat seorang polisi datang kerumahku dan membawa kabar yang membuat tulang-tulangku rapuh seketika. Lemas. Aku selalu bertanya setiap harinya, mengapa ia begitu cepat pergi meninggalkanku seorang diri? Setelah perceraian itu, aku memutuskan untuk ikut bersamanya. Bertahun-tahun kami hidup bersama. Ia mengurusku menggantikan sosok ibu yang tinggal jauh dari kami, tak lagi disini bersama seperti dahulu kala. Meski kadang ada sesuatu hal yang tidak dapat ia lakukan untukku, yaitu membuat masakan seenak masakan ibu, mencuci baju sebersih cucian ibu, namun ia dapat menyetrika bajuku serapi setrikaan ibu, mengepang rambutku secantik kepangan ibu, menyuapiku setiap hari, mengantarku ke sekolah dengan sepeda motor bututnya. Namun tetap saja, seorang ayah tak dapat sesempurna seorang ibu. Ia kadang marah karena tidak sabar menghadapi aku yang waktu itu masih kecil berumur 7 tahun. Meskipun setelah kemarahannya, ia selalu memelukku dan seperti ada isak yang tersembunyi, ia menyembunyikan tangisannya.
            Oh ayah, mengapa kau harus lebih dulu pergi? Tak maukah kau melihatku tumbuh dewasa dan menjadi gadis jelita yang akan selalu kau banggakan seperti dahulu saat aku mendapatkan rangking, saat aku memenangkan lomba balap karung dalam rangka merayakan hari kemerdekaan 17 Agustus, dan kenyataan bahwa hanya akulah satu-satunya putrimu. Lupakah kau terhadap janjimu akan mengajakku ke sebuah danau? Lupakah kau yang berjanji membuatkan aku rumah? Bukankah batu-batu, besi-besi, semen, dan lain-lainnya sudah terkumpul dan hanya tinggal mendirikan rumah impianmu yang katamu akan kau hadiahkan untukku? Aku tak habis fikir, mengapa kau pergi secepat ini. Meninggalkanku. Meninggalkan kenangan-kenangan manis yang pernah kita lalui bersama, bersama ibu.
            Dua tahun semenjak kepergianmu, ibu memutuskan untuk menikah lagi. Kurasa, bukan karena ia berhenti mencintaimu, Yah. Aku yakin, cinta itu masih ada. Sejak kepergianmu, ia menangis disetiap malamnya. Entahlah, aku hanya mengira-ngira bahwa ia sangat kehilangan dirimu, Ayah.
Kenyataan bahwa kau telah tiada baru benar-benar aku relakan saat usiaku menginjak 16 tahun, lama sekali proses itu, Yah. Sosok bapak yang kini menggantikanmu disisi ibu sangat baik padaku. Aku yakin, ia begitu tulus memberikan cintanya sama seperti kepada anak kandungnya. Ibu juga tak berubah, tak berubah seperti yang banyak film-film ceritakan bahwa seorang ibu akan berubah jika ia memiliki suami baru ditambah anak-anak baru. Adikku kini ada tiga. Aku sempat merasa kaget dengan kondisi ini. Aku, putrimu satu-satunya tiba-tiba harus menerima kehadiran tiga orang adik. Ya. tapi kini aku mulai terbiasa, dan sayangku tidak main-main terhadap mereka adik-adikku. Kini usiaku sudah 20 tahun, Yah. Aku sudah gadis. Bahkan, kau tau Yah? Ada beberapa orang yang datang untuk meminangku.
Siang itu begitu cerah, aku pulang dari tempat kuliahku di Bandung. Ibu mengatakan dengan sangat hati-hati. Wajahnya nampak bahagia.
“Ibu sangat bahagia jika kamu mau menikah muda, No”.
Kalimat itu membuatku terdiam lama sekali. Ah ibu! Andai kau tau ada seseorang yang mengganggu hatiku. Aku sedang menantikan kehadirannya. Kehadiran sosok yang aku kagumi.
            Tiba-tiba saja malamnya, ada sebuah pesan yang masuk dalam ponselku. Fahri. Aktivis kampus yang membius banyak wanita di kampus. Ya, ia adalah pria yang mengganggu hatiku. Lama, sejak pertemuan pertama kami di salah satu aksi longmarch sepanjang jalan gedung Sate. Ia menolongku yang terkena batu lemparan anak SMA yang tak disangka tengah tawuran hingga jilbab putihku berlumuran darah. Ini bermula dari simpati. Kemudian tanpa diduga-duga kami sering bertemu karena ternyata kami satu organisasi. Entahlah, apakah aku sama dengan mereka-mereka yang ada di TV, cinlok.
            Ah! Cinta memang tidak harus memiliki. Sama. Sama seperti ketika aku kehilangan dirimu Ayah. Bedanya, engkau pergi kepada-Nya, sedangkan ia pergi bersama yang lain. Semua terjadi demikian singkat. Tanpa aku duga tentunya. Pesan itu mengabarkan ia yang tiba-tiba menikah. Ya, ia menikah dengan sahabat baikku, sahabat satu wisma. Alira. Gadis yang menjabat sebagai ketua ke’akhwat’an di organisasi yang sama-sama kami geluti.
            Luka itu terlalu sulit untuk kusembuhkan. Aku merasa seperti dipermainkan perasaanku sendiri. Penantianku berhenti dengan cara seperti ini. Andai ada engkau disisiku, Yah. Engkau akan melakukan sesuatu untukku agar aku tak lagi terluka. Aku seperti trauma. Hatiku kembali hilang isi. Seperti tak ditempatnya.
            Saudara jauh ibu dari Bekasi, ia menyampaikan niat mulianya. Meminangku. Ah! Andai saja aku punya kemampuan untuk tidak menyakitinya. Maafkan aku telah menolak. Lagi, rekan ibu yang menawarkan putranya yang tengah S2, aku juga menolaknya.
Kuliah adalah alasanku, entahlah. Bahkan sahbat baikku satu wisma, Alira  bertanya; “Aku rasa alasan ‘masih kuliah’ tidak lagi dapat kamu gunakan setelah kamu lulus nanti, iya kan No?”
Namun aku rasa ini bukanlah pertanyaan melainkan nasehat yang terselubung. Alira, aku belum siap.
“Apa masih ada yang bertempat dihatimu, No?”. Tanyanya suatu hari.
“Masih banyak ilmu yang belum aku dapatkan, Ra. Mana mungkin aku menikah kemudian menjadi seorang ibu tanpa bekal yang cukup? Lalu bagaimana jika putra-putriku bertanya dan aku tak dapat menjawabnya?”. Ya. itu alasan kuatku. Aku masih butuh banyak bimbingan.
            Subhanallah! Allah memberikan padaku jalan untuk mencukupi niatku. Benar. Tiba-tiba aku masuk dalam sebuah perkumpulan dimana ayat-ayat Allah dibacakan. Halaqah, namanya. Setiap jum’at sore di masjid kampus. Hanya beranggotakan delapan orang akhwat.  Bukannya perkumpulan ini tidak diminati, namun agar lebih efektif dan lebih dekat, maka perkumpulan ini terbagi menjadi beberapa kelompok halaqah. Mereka banyak membantuku. Sungguh, duduk dalam lingkaran ini begitu menambah banyak wawasan. Tidak hanya seputar agama. Namun, kehidupan, kesehatan, ekonomi, politik, sosial juga bisa aku dapatkan. Ditambah tidak hanya dari fakultasku saja, namun mereka datang dari berbagai fakultas, kami bisa saling berbagi pengalaman. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?.
            Ahad yang cerah. Aku pergi ke pernikahan Alira dan mas Fahri bersama rombongan satu organisasi. Subahanallah! Tamu yang datang banyak sekali. Mereka sama-sama masih kuliah, mas Fahri bulan depan wisuda, tapi punya banyak kenalan dimana-mana. Memang mereka type orang yang mudah bergaul. Siapapun yang ada didekatnya akan merasa nyaman-nyaman saja. Sama seperti aku dengan Alira. Tidak lagi aku peduli terhadap perasaanku. Menerima adalah kewajibanku.
Teringat pesan ibu saat aku berangakat dari Jakarta, “Jodoh, rejeki, dan mati, sudah ada yang mengaturnya, putriku Eno”.
            Saat bergiliran mengucapkan doa baarakah dengan mempelai, tiba-tiba Alira memelukku erat dan menangis. Fikiranku kacau seketika. Dia mengetahuinya? Mengetahui perasaanku terhadap laki-laki yang kini bersanding bersamanya. Tubuhku hilang tenaga.
“Maafkan aku, No”. Ujarnya terbata.
Aku diam. Semakin kacau fikiranku. Lidahku kelu.
“Maafkan aku jika selama kita satu wisma banyak kesalahan-kesalahan yang aku lakukan padamu sahabatku, aku yang sering menggodamu....” Ujarnya.
“....Aku doakan, semoga ia segera datang yah”. Lirihnya menggoda sembari melirik Asep teman satu kelasku yang tengah menyanyikan senandung nasyid.
Aku hanya tersenyum geli sembari mengelus dadaku.
Ah! Asep??? Dia justru seperti adikku sendiri. Mahasiswa termuda di kelas kami. Bayangkan saja, di usianya yang belum genap 19 tahun, ia sudah duduk di bangku perkuliahan semester lima? Aku saja hampir 21 tahun.
Aku merasa sedikit lega. Apa yang aku fikirkan tidak terjadi. Ia sudah membuat jantungku bekerja lebih cepat. Uh!
#####
            Hari ini ada kunjungan halaqah di kampus lain. Aku ditunjuk bersama Alira untuk mewakili. Sesampainya disana kami disambut hangat oleh teman-teman di UNPAD, sejuknya melebihi udara pagi ini. Ya. ukhuwah islamiyah. Nikmatnya. Sebelum materi dimulai, kami saling berbagi informasi, saling mengenal satu sama lain. Baru beberapa menit hampir sudah bisa menyatu. Luar biasa indahnya persaudaraan ini.
            Siang ini langit berubah menjadi terang, namun bagiku mendung semendung mendungnya, hingga menyelimuti hatiku. Tebal, tebal sekali. Rasanya ingin aku berteriak seketika juga. Menangis sejadi-jadinya. Berlari mencari ruang waktu dimana semua itu dapat diputar kembai. Aku tidak marah, tidak! Aku berterima kasih, tapi dengan airmata penyesalan disini, didadaku yang mulai menyesak. Ya Allah, kenapa aku harus tahu sekarang? Mengapa tidak dari dulu? Aku ingin lebih baik tidak tahu sama sekali. Hatiku remuk tercecer. Fikiranku kacau entah dimana, seperti tak ditempatnya.
            Kata-kata yang dulu pernah aku dengar sewaktu aku kecil kini kembali membayang dikepalaku. Bahkan itu tak mau pergi.
Ayah, seperti apapun dirimu. Seperti apapun orang menilai dirimu. Kau tetaplah ayahku, ayah yang darahnya mengalir di tubuh putrimu ini. Ayah yang kebaikannya tidak terbayar oleh apapun. Ayah yang tak tergantikan diruang hatiku. Ayah, aku menyayangimu. Ayah, aku mencintaimu. Ayah, aku ingin kau kembali....!!!! Kembali dan memperbaiki segalanya.
Aku kembali kerumah nenek di Purwokerto, dari Bandung bukannya langsung ke rumah, aku justru menemui ayah di makam sore itu.
“Ayahmu masuk penjara karena berjudi”.
“Ayahmu masuk penjara karena mencuri”.
“Ayahmu masuk penjara lagi karena pembunuhan”.
“Kau anak seorang pembunuh”.
Aarrrggghhhh! Lagi-lagi kalimat-kalimat itu tak mau pergi.
“Ayah, bagaimana bisa kau yang begitu menyayangiku, yang begitu lembut terhadapku, begitu rela menjadi ibu buatku, rela memasak, rela mencucikan dan menyetrika bajuku, rela merapikan tempat tidurku, rela mengepang rambutku, rela menyuapiku setiap hari saat ibu pergi meninggalkan kita. Ayah, katakanlah bahwa apa yang aku dengar dulu saat kepergianmu itu semuanya salah! Katakan ayah! Katakan ayah!”. Aku berteriak sembari terus memegang erat pusara ayahku. Aku ingin memeluknya dan mengatakan semua ini. Mengatakan bahwa aku ingin ia kembali. Kembali disini. Kembali memperbaiki segalanya.
Tiba-tiba terlintas lagi bahasan halaqah kemarin yang sebenarnya itu bermula dari pertanyaan seorang akhwat tentang sanggul.
“Apapun itu, sesuatu yang melekat dalam tubuh manusia yang asalnya bukan dari Allah, seharusnya dilepaskan terlebih dahulu sebelum ia meninggal, seperti susuk, rambut sambungan, tato.. Itu sebabnya orang yang memandikan jenazah haruslah orang-orang yang benar-benar paham dan mengerti aturan-aturan itu.”
“Karena itu akan menghalanginya masuk ke pintu surga”.
Tato. Ya. Aku mengingat lengan kirimu yang bertuliskan nama ibu, dan lengan kananmu yang bergambar naga. Ayah, maafkan aku.. maafkan aku yang baru mengetahuinya saat ini. Ayah, tenanglah, aku tidak akan meninggalkanmu meski orang-orang mengatakan bahwa kau penjudi, bahwa kau pencuri, atau bahkan ketika semua orang mengatakan bahwa kau adalah pembunuh, aku tidak peduli itu!!! Aku menyayangimu tulus seperti engkau menyayangiku. Namun ayah, bagaimana aku bisa melepaskan tato itu sementara mungkin tinggal tulangmu yang terisa dibalik tanah ini.
            Ayah, andai aku dapat mengantarmu ke surga. Ayah, andai aku bisa menerangi kuburmu. Ayah, akan aku lakukan semua itu untukmu. Untuk keselamatanmu. Namun apa yang dapat aku lakukan untukmu ayah?? Apa?? Katakan!! Katakan ayah!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar