By; Oktaviani Ferla Ayunda
Aku merasa, kadang hidup tidak
begitu adil terhadapku. Kehilangan orang yang begitu berarti dalam hidup adalah ibarat ruangan yang sebelumnya
penuh dengan isinya tiba-tiba hilang isi. Kosong. Hampa. Ya, itu kualami sebelas
tahun yang lalu saat seorang polisi datang kerumahku dan membawa kabar yang
membuat tulang-tulangku rapuh seketika. Lemas. Aku selalu bertanya setiap
harinya, mengapa ia begitu cepat pergi meninggalkanku seorang diri? Setelah
perceraian itu, aku memutuskan untuk ikut bersamanya. Bertahun-tahun kami hidup
bersama. Ia mengurusku menggantikan sosok ibu yang tinggal jauh dari kami, tak
lagi disini bersama seperti dahulu kala. Meski kadang ada sesuatu hal yang
tidak dapat ia lakukan untukku, yaitu membuat masakan seenak masakan ibu,
mencuci baju sebersih cucian ibu, namun ia dapat menyetrika bajuku serapi
setrikaan ibu, mengepang rambutku secantik kepangan ibu, menyuapiku setiap hari,
mengantarku ke sekolah dengan sepeda motor bututnya. Namun tetap saja, seorang
ayah tak dapat sesempurna seorang ibu. Ia kadang marah karena tidak sabar
menghadapi aku yang waktu itu masih kecil berumur 7 tahun. Meskipun setelah
kemarahannya, ia selalu memelukku dan seperti ada isak yang tersembunyi, ia
menyembunyikan tangisannya.
Oh ayah, mengapa kau harus lebih
dulu pergi? Tak maukah kau melihatku tumbuh dewasa dan menjadi gadis jelita
yang akan selalu kau banggakan seperti dahulu saat aku mendapatkan rangking,
saat aku memenangkan lomba balap karung dalam rangka merayakan hari kemerdekaan
17 Agustus, dan kenyataan bahwa hanya akulah satu-satunya putrimu. Lupakah kau
terhadap janjimu akan mengajakku ke sebuah danau? Lupakah kau yang berjanji
membuatkan aku rumah? Bukankah batu-batu, besi-besi, semen, dan lain-lainnya sudah
terkumpul dan hanya tinggal mendirikan rumah impianmu yang katamu akan kau
hadiahkan untukku? Aku tak habis fikir, mengapa kau pergi secepat ini.
Meninggalkanku. Meninggalkan kenangan-kenangan manis yang pernah kita lalui
bersama, bersama ibu.
Dua tahun semenjak kepergianmu, ibu
memutuskan untuk menikah lagi. Kurasa, bukan karena ia berhenti mencintaimu,
Yah. Aku yakin, cinta itu masih ada. Sejak kepergianmu, ia menangis disetiap
malamnya. Entahlah, aku hanya mengira-ngira bahwa ia sangat kehilangan dirimu,
Ayah.
Kenyataan
bahwa kau telah tiada baru benar-benar aku relakan saat usiaku menginjak 16
tahun, lama sekali proses itu, Yah. Sosok bapak yang kini menggantikanmu disisi
ibu sangat baik padaku. Aku yakin, ia begitu tulus memberikan cintanya sama
seperti kepada anak kandungnya. Ibu juga tak berubah, tak berubah seperti yang
banyak film-film ceritakan bahwa seorang ibu akan berubah jika ia memiliki
suami baru ditambah anak-anak baru. Adikku kini ada tiga. Aku sempat merasa
kaget dengan kondisi ini. Aku, putrimu satu-satunya tiba-tiba harus menerima
kehadiran tiga orang adik. Ya. tapi kini aku mulai terbiasa, dan sayangku tidak
main-main terhadap mereka adik-adikku. Kini usiaku sudah 20 tahun, Yah. Aku
sudah gadis. Bahkan, kau tau Yah? Ada beberapa orang yang datang untuk
meminangku.
Siang
itu begitu cerah, aku pulang dari tempat kuliahku di Bandung. Ibu mengatakan
dengan sangat hati-hati. Wajahnya nampak bahagia.
“Ibu
sangat bahagia jika kamu mau menikah muda, No”.
Kalimat
itu membuatku terdiam lama sekali. Ah ibu! Andai kau tau ada seseorang yang
mengganggu hatiku. Aku sedang menantikan kehadirannya. Kehadiran sosok yang aku
kagumi.
Tiba-tiba saja malamnya, ada sebuah
pesan yang masuk dalam ponselku. Fahri. Aktivis kampus yang membius banyak
wanita di kampus. Ya, ia adalah pria yang mengganggu hatiku. Lama, sejak
pertemuan pertama kami di salah satu aksi longmarch sepanjang jalan gedung
Sate. Ia menolongku yang terkena batu lemparan anak SMA yang tak disangka tengah
tawuran hingga jilbab putihku berlumuran darah. Ini bermula dari simpati.
Kemudian tanpa diduga-duga kami sering bertemu karena ternyata kami satu
organisasi. Entahlah, apakah aku sama dengan mereka-mereka yang ada di TV,
cinlok.
Ah! Cinta memang tidak harus
memiliki. Sama. Sama seperti ketika aku kehilangan dirimu Ayah. Bedanya, engkau
pergi kepada-Nya, sedangkan ia pergi bersama yang lain. Semua terjadi demikian
singkat. Tanpa aku duga tentunya. Pesan itu mengabarkan ia yang tiba-tiba
menikah. Ya, ia menikah dengan sahabat baikku, sahabat satu wisma. Alira. Gadis
yang menjabat sebagai ketua ke’akhwat’an di organisasi yang sama-sama kami
geluti.
Luka itu terlalu sulit untuk
kusembuhkan. Aku merasa seperti dipermainkan perasaanku sendiri. Penantianku
berhenti dengan cara seperti ini. Andai ada engkau disisiku, Yah. Engkau akan
melakukan sesuatu untukku agar aku tak lagi terluka. Aku seperti trauma. Hatiku
kembali hilang isi. Seperti tak ditempatnya.
Saudara jauh ibu dari Bekasi, ia menyampaikan
niat mulianya. Meminangku. Ah! Andai saja aku punya kemampuan untuk tidak
menyakitinya. Maafkan aku telah menolak. Lagi, rekan ibu yang menawarkan
putranya yang tengah S2, aku juga menolaknya.
Kuliah
adalah alasanku, entahlah. Bahkan sahbat baikku satu wisma, Alira bertanya; “Aku rasa alasan ‘masih kuliah’
tidak lagi dapat kamu gunakan setelah kamu lulus nanti, iya kan No?”
Namun
aku rasa ini bukanlah pertanyaan melainkan nasehat yang terselubung. Alira, aku
belum siap.
“Apa
masih ada yang bertempat dihatimu, No?”. Tanyanya suatu hari.
“Masih
banyak ilmu yang belum aku dapatkan, Ra. Mana mungkin aku menikah kemudian
menjadi seorang ibu tanpa bekal yang cukup? Lalu bagaimana jika putra-putriku
bertanya dan aku tak dapat menjawabnya?”. Ya. itu alasan kuatku. Aku masih
butuh banyak bimbingan.
Subhanallah! Allah memberikan padaku
jalan untuk mencukupi niatku. Benar. Tiba-tiba aku masuk dalam sebuah
perkumpulan dimana ayat-ayat Allah dibacakan. Halaqah, namanya. Setiap jum’at
sore di masjid kampus. Hanya beranggotakan delapan orang akhwat. Bukannya perkumpulan ini tidak diminati, namun
agar lebih efektif dan lebih dekat, maka perkumpulan ini terbagi menjadi beberapa
kelompok halaqah. Mereka banyak membantuku. Sungguh, duduk dalam lingkaran ini
begitu menambah banyak wawasan. Tidak hanya seputar agama. Namun, kehidupan, kesehatan,
ekonomi, politik, sosial juga bisa aku dapatkan. Ditambah tidak hanya dari
fakultasku saja, namun mereka datang dari berbagai fakultas, kami bisa saling
berbagi pengalaman. Maka nikmat Tuhanmu
yang manakah yang kamu dustakan?.
Ahad yang cerah. Aku pergi ke
pernikahan Alira dan mas Fahri bersama rombongan satu organisasi. Subahanallah!
Tamu yang datang banyak sekali. Mereka sama-sama masih kuliah, mas Fahri bulan
depan wisuda, tapi punya banyak kenalan dimana-mana. Memang mereka type orang
yang mudah bergaul. Siapapun yang ada didekatnya akan merasa nyaman-nyaman
saja. Sama seperti aku dengan Alira. Tidak lagi aku peduli terhadap perasaanku.
Menerima adalah kewajibanku.
Teringat
pesan ibu saat aku berangakat dari Jakarta, “Jodoh, rejeki, dan mati, sudah ada
yang mengaturnya, putriku Eno”.
Saat bergiliran mengucapkan doa
baarakah dengan mempelai, tiba-tiba Alira memelukku erat dan menangis.
Fikiranku kacau seketika. Dia mengetahuinya? Mengetahui perasaanku terhadap
laki-laki yang kini bersanding bersamanya. Tubuhku hilang tenaga.
“Maafkan
aku, No”. Ujarnya terbata.
Aku
diam. Semakin kacau fikiranku. Lidahku kelu.
“Maafkan
aku jika selama kita satu wisma banyak kesalahan-kesalahan yang aku lakukan
padamu sahabatku, aku yang sering menggodamu....” Ujarnya.
“....Aku
doakan, semoga ia segera datang yah”. Lirihnya menggoda sembari melirik Asep
teman satu kelasku yang tengah menyanyikan senandung nasyid.
Aku
hanya tersenyum geli sembari mengelus dadaku.
Ah!
Asep??? Dia justru seperti adikku sendiri. Mahasiswa termuda di kelas kami. Bayangkan
saja, di usianya yang belum genap 19 tahun, ia sudah duduk di bangku perkuliahan
semester lima? Aku saja hampir 21 tahun.
Aku
merasa sedikit lega. Apa yang aku fikirkan tidak terjadi. Ia sudah membuat
jantungku bekerja lebih cepat. Uh!
#####
Hari ini ada kunjungan halaqah di
kampus lain. Aku ditunjuk bersama Alira untuk mewakili. Sesampainya disana kami
disambut hangat oleh teman-teman di UNPAD, sejuknya melebihi udara pagi ini.
Ya. ukhuwah islamiyah. Nikmatnya. Sebelum materi dimulai, kami saling berbagi
informasi, saling mengenal satu sama lain. Baru beberapa menit hampir sudah
bisa menyatu. Luar biasa indahnya persaudaraan ini.
Siang ini langit berubah menjadi
terang, namun bagiku mendung semendung mendungnya, hingga menyelimuti hatiku.
Tebal, tebal sekali. Rasanya ingin aku berteriak seketika juga. Menangis
sejadi-jadinya. Berlari mencari ruang waktu dimana semua itu dapat diputar
kembai. Aku tidak marah, tidak! Aku berterima kasih, tapi dengan airmata
penyesalan disini, didadaku yang mulai menyesak. Ya Allah, kenapa aku harus
tahu sekarang? Mengapa tidak dari dulu? Aku ingin lebih baik tidak tahu sama
sekali. Hatiku remuk tercecer. Fikiranku kacau entah dimana, seperti tak
ditempatnya.
Kata-kata yang dulu pernah aku
dengar sewaktu aku kecil kini kembali membayang dikepalaku. Bahkan itu tak mau
pergi.
Ayah,
seperti apapun dirimu. Seperti apapun orang menilai dirimu. Kau tetaplah
ayahku, ayah yang darahnya mengalir di tubuh putrimu ini. Ayah yang kebaikannya
tidak terbayar oleh apapun. Ayah yang tak tergantikan diruang hatiku. Ayah, aku
menyayangimu. Ayah, aku mencintaimu. Ayah, aku ingin kau kembali....!!!!
Kembali dan memperbaiki segalanya.
Aku
kembali kerumah nenek di Purwokerto, dari Bandung bukannya langsung ke rumah,
aku justru menemui ayah di makam sore itu.
“Ayahmu
masuk penjara karena berjudi”.
“Ayahmu
masuk penjara karena mencuri”.
“Ayahmu
masuk penjara lagi karena pembunuhan”.
“Kau
anak seorang pembunuh”.
Aarrrggghhhh!
Lagi-lagi kalimat-kalimat itu tak mau pergi.
“Ayah,
bagaimana bisa kau yang begitu menyayangiku, yang begitu lembut terhadapku,
begitu rela menjadi ibu buatku, rela memasak, rela mencucikan dan menyetrika bajuku,
rela merapikan tempat tidurku, rela mengepang rambutku, rela menyuapiku setiap
hari saat ibu pergi meninggalkan kita. Ayah, katakanlah bahwa apa yang aku
dengar dulu saat kepergianmu itu semuanya salah! Katakan ayah! Katakan ayah!”.
Aku berteriak sembari terus memegang erat pusara ayahku. Aku ingin memeluknya
dan mengatakan semua ini. Mengatakan bahwa aku ingin ia kembali. Kembali
disini. Kembali memperbaiki segalanya.
Tiba-tiba
terlintas lagi bahasan halaqah kemarin yang sebenarnya itu bermula dari
pertanyaan seorang akhwat tentang sanggul.
“Apapun
itu, sesuatu yang melekat dalam tubuh manusia yang asalnya bukan dari Allah,
seharusnya dilepaskan terlebih dahulu sebelum ia meninggal, seperti susuk, rambut
sambungan, tato.. Itu sebabnya orang yang memandikan jenazah haruslah
orang-orang yang benar-benar paham dan mengerti aturan-aturan itu.”
“Karena
itu akan menghalanginya masuk ke pintu surga”.
Tato.
Ya. Aku mengingat lengan kirimu yang bertuliskan nama ibu, dan lengan kananmu
yang bergambar naga. Ayah, maafkan aku.. maafkan aku yang baru mengetahuinya
saat ini. Ayah, tenanglah, aku tidak akan meninggalkanmu meski orang-orang
mengatakan bahwa kau penjudi, bahwa kau pencuri, atau bahkan ketika semua orang
mengatakan bahwa kau adalah pembunuh, aku tidak peduli itu!!! Aku menyayangimu
tulus seperti engkau menyayangiku. Namun ayah, bagaimana aku bisa melepaskan
tato itu sementara mungkin tinggal tulangmu yang terisa dibalik tanah ini.
Ayah, andai aku dapat mengantarmu ke
surga. Ayah, andai aku bisa menerangi kuburmu. Ayah, akan aku lakukan semua itu
untukmu. Untuk keselamatanmu. Namun apa yang dapat aku lakukan untukmu ayah??
Apa?? Katakan!! Katakan ayah!!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar