Minggu, 01 April 2012

Arogansi Kuasa


Irisan luka yang ditorehkan oleh arogansi kuasa yang meminggirkan dan mengebiri harkat hidup mereka di bawah rezim kepentingan kapital. Sungguh terasa ironis dan lucu manakala ruang hidup rakyat yang bernafas dengan bercocok tanam harus dibungkam oleh fakta-fakta tragis kapitalisme (pertambangan) yang ‘alih-alih’, memahami kearifan lokal masyarakat setempat. Sebaliknya, peristiwa-peristiwa berdarah, seperti di Papua, Mesuji dan, terakhir, di Bima, mengungkap begitu kentara sebuah desain modernisme dan korporasi global yang justru sangat bermuatan politis (political economy) ketimbang ucap gombal incumbent atas nasib rakyat ke depan.
Peristiwa subuh yang takkan terlupakan....
Fajar tengah menunjukan tanda-tanda kedatangannya. Rasa dingin di waktu sepertiga malam sepertinya tak lagi terasa. Suhu semakin meningkat akhir-akhir ini, dan mungkin entah kapan kembali normal, dengan atau tanpa kedamaian dan keadilan di bumi Ngahi Rawi Pahu.
Rizal menunduk dalam begitu tegaknya barisan menjelang pagi itu. Wajah jantannya memerah. Ada isak tersembunyi. “Aku tidak tahu apakah kita akan terus bertahan, sementara kemenangan sepertinya tidak memihak pada....
Tangan Arief mendarat di bahu Rizal, memotong perkataan teman sebangkunya di SMA. “Jangan putus asa begitu lah kawan, karena putus asa bukanlah akhlak seorang muslim. Ketahuilah bahwa kenyataan hari ini adalah mimpi hari kemarin, dan impian hari ini adalah kenyataan hari esok. Waktu masih panjang dan hasrat akan terwujudnya kedamaian masih tertanam dalam jiwa masyarakat kita, meski fenomena-fenomena kerusakan dan ketidak adilan menghantui kita....” terang Arief sembari terus mengangkat spanduk besar bertuliskan; “CABUT SK Bupati Bima Nomor 188 Tahun 2010 tentang izin pertambangan PT Sumber Mineral Nusantara (SMN) !!!!!!” dalam pemblokiran pelabuhan Sape Bima NTB subuh itu.
Rizal diam. Masih menunduk.
“Bersiap dan berbuatlah. Jangan menunggu hari esok, karena bisa jadi kamu tidak akan berbuat apa-apa di esok hari.”
Rizal mengangkat kepalanya, ia mengeryitkan dahinya.
Arief merangkul sahabatnya dengan tangan kanannya. “...Yang lemah tidak akan lemah sepanjang hidupnya dan yang kuat tidak akan selamanya kuat kawan.” Lanjut Arief.
“Lalu??’ tanya Rizal pelan.
Arief terkekeh. “Lalu?? Sebagai rakyat, kita tinggal memilih, di mana kaki berpijak. Diam atau tetap melawan?!”
Rizal tersenyum dan menunjukkan semangatnya.
Terdengar banyak teriakan-teriakan mengenai keadilan dan terenggutnya masa depan perekonomian masyarakat subuh itu.
Aparat datang dan berusaha menghalau upaya pemblokiran pelabuhan dari masyarakat, termasuk Arief dan Rizal. Barisan semakin kokoh. Saling melindungi, itu yang terjadi. Para wanita berada di barisan paling belakang
"Kami sebagian besar penduduknya bertani dan nelayan. Tambang itu akan membongkar tanah dan mengganggu sumber air untuk kami. Tentunya ini akan mengganggu pertanian kami" Teriak seorang ibu di barisan belakang dengan sebuah TOA ditangannya.
“Cabut SK !!!” terdengar beberapa warga menyeruak. Yang lain menyetujui dengan suara yang keras dan penuh ambisi memperoleh keadilan.
Bentrokanpun tak lagi mampu di kendalikan. Suhu pagi itu begitu menyengat. Aneh. Bentrokan terasa amat panas. Terlihat beberapa kali anggota kepolisian menyeret dan memukuli warga. Terlihat salah seorang polisi memukul dan melepaskan tendangan ke arah warga yang tengah diseret itu. Tak lama kemudian muncul salah seorang berpakaian sipil yang turut melepaskan tendangan. Juga terdengar suara tembakan peluru bertubi-tubi ke arah kerumunan warga yang memblokir pelabuhan. Di saat aparat kepolisian mendekat sambil memberondong tembakan, warga berhamburan membubarkan diri.
Rizal mengikuti langkah masyarakat yang berhamburan membubarkan diri. Jauh langkahnya, ia tersadar, ia mencari pemuda yang sedari tadi berdiri dalam satu barisan bersamanya tidak ada. Dimana?? Matanya mengarah ke segala penjuru pelabuhan dalam keramaian.
 “Arief.....!!” Teriaknya lantang. Terlihat sosok yang dicarinya tergeletak ditempat dimana ia bersama sahabatnya berbaris tadi.
Kerongkongannya kering seketika. Airmata itu tak lagi mampu dibendung. Seperti darah akibat peluru runcing atas kebrutalan aparat yang sewenang-wenang (bukan lagi berwenang)  yang melumuri tubuh gagah pemuda belia berusia 18 tahun yang masih duduk di bangku SMA itu. Dilihatnya lagi seorang pemuda yang bernasib sama seperti Arief, Saiful yang tergeletak dipangkuan bapaknya.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar