Irisan
luka yang ditorehkan oleh arogansi kuasa yang meminggirkan dan mengebiri harkat
hidup mereka di bawah rezim kepentingan kapital. Sungguh terasa ironis dan lucu
manakala ruang hidup rakyat yang bernafas dengan bercocok tanam harus dibungkam
oleh fakta-fakta tragis kapitalisme (pertambangan) yang ‘alih-alih’, memahami
kearifan lokal masyarakat setempat. Sebaliknya, peristiwa-peristiwa berdarah,
seperti di Papua, Mesuji dan, terakhir, di Bima, mengungkap begitu kentara
sebuah desain modernisme dan korporasi global yang justru sangat bermuatan
politis (political economy) ketimbang ucap gombal incumbent
atas nasib rakyat ke depan.
Peristiwa subuh yang
takkan terlupakan....
Fajar tengah menunjukan
tanda-tanda kedatangannya. Rasa dingin di waktu sepertiga malam sepertinya tak
lagi terasa. Suhu semakin meningkat akhir-akhir ini, dan mungkin entah kapan
kembali normal, dengan atau tanpa kedamaian dan keadilan di bumi Ngahi Rawi
Pahu.
Rizal menunduk dalam
begitu tegaknya barisan menjelang pagi itu. Wajah jantannya memerah. Ada isak
tersembunyi. “Aku tidak tahu apakah kita akan terus bertahan, sementara
kemenangan sepertinya tidak memihak pada....
Tangan Arief mendarat
di bahu Rizal, memotong perkataan teman sebangkunya di SMA. “Jangan putus asa
begitu lah kawan, karena putus asa bukanlah akhlak seorang muslim. Ketahuilah
bahwa kenyataan hari ini adalah mimpi hari kemarin, dan impian hari ini adalah
kenyataan hari esok. Waktu masih panjang dan hasrat akan terwujudnya kedamaian
masih tertanam dalam jiwa masyarakat kita, meski fenomena-fenomena kerusakan
dan ketidak adilan menghantui kita....” terang Arief sembari terus mengangkat spanduk
besar bertuliskan; “CABUT SK Bupati Bima Nomor 188 Tahun 2010 tentang izin
pertambangan PT Sumber Mineral Nusantara (SMN) !!!!!!” dalam pemblokiran
pelabuhan Sape Bima NTB subuh itu.
Rizal diam. Masih
menunduk.
“Bersiap dan
berbuatlah. Jangan menunggu hari esok, karena bisa jadi kamu tidak akan berbuat
apa-apa di esok hari.”
Rizal mengangkat
kepalanya, ia mengeryitkan dahinya.
Arief merangkul
sahabatnya dengan tangan kanannya. “...Yang lemah tidak akan lemah sepanjang
hidupnya dan yang kuat tidak akan selamanya kuat kawan.” Lanjut Arief.
“Lalu??’ tanya Rizal
pelan.
Arief
terkekeh. “Lalu?? Sebagai rakyat, kita tinggal memilih, di mana kaki berpijak.
Diam atau tetap melawan?!”
Rizal tersenyum dan
menunjukkan semangatnya.
Terdengar banyak
teriakan-teriakan mengenai keadilan dan terenggutnya masa depan perekonomian
masyarakat subuh itu.
Aparat datang dan
berusaha menghalau upaya pemblokiran pelabuhan dari masyarakat, termasuk Arief
dan Rizal. Barisan semakin kokoh. Saling melindungi, itu yang terjadi. Para
wanita berada di barisan paling belakang
"Kami sebagian
besar penduduknya bertani dan nelayan. Tambang itu akan membongkar tanah dan
mengganggu sumber air untuk kami. Tentunya ini akan mengganggu pertanian kami"
Teriak seorang ibu di barisan belakang dengan sebuah TOA ditangannya.
“Cabut SK !!!”
terdengar beberapa warga menyeruak. Yang lain menyetujui dengan suara yang
keras dan penuh ambisi memperoleh keadilan.
Bentrokanpun tak lagi
mampu di kendalikan. Suhu pagi itu begitu menyengat. Aneh. Bentrokan terasa
amat panas. Terlihat beberapa kali anggota kepolisian menyeret dan memukuli
warga. Terlihat salah seorang polisi
memukul dan melepaskan tendangan ke arah warga yang tengah diseret itu. Tak
lama kemudian muncul salah seorang berpakaian sipil yang turut melepaskan
tendangan. Juga terdengar suara tembakan peluru bertubi-tubi ke arah kerumunan
warga yang memblokir pelabuhan. Di saat aparat kepolisian mendekat sambil
memberondong tembakan, warga berhamburan membubarkan diri.
Rizal mengikuti langkah masyarakat yang berhamburan membubarkan diri. Jauh
langkahnya, ia tersadar, ia mencari pemuda yang sedari tadi berdiri dalam satu
barisan bersamanya tidak ada. Dimana?? Matanya mengarah ke segala penjuru
pelabuhan dalam keramaian.
“Arief.....!!” Teriaknya lantang. Terlihat
sosok yang dicarinya tergeletak ditempat dimana ia bersama sahabatnya berbaris
tadi.
Kerongkongannya kering seketika. Airmata itu tak lagi mampu dibendung.
Seperti darah akibat peluru runcing atas kebrutalan aparat
yang sewenang-wenang (bukan lagi berwenang) yang melumuri tubuh gagah pemuda belia
berusia 18 tahun yang masih duduk di bangku SMA itu. Dilihatnya lagi seorang
pemuda yang bernasib sama seperti Arief, Saiful yang tergeletak dipangkuan
bapaknya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar